Catatan pribadi
Sebagaimana sebagian besar orang Indonesia pada umumnya, saya mempelajari Islam dari sudut pandang Ahli Sunnah wal Jama'ah, yang percaya kepada 5 rukun Islam dan 6 rukun Iman. Saya mulai mempelajari ajaran Islam ketika saya masuk SMA (sebelumnya saya sekolah di sekolah Katolik dari TK hingga SMP). Ketika di SMA, saya cukup aktif di rohis. Saya hampir tidak pernah absen kalau ada kegiatan liqa dengan murobi saya. Bahkan, saya sendiri pernah menjadi murobi bagi adik kelas saya.
Namun, seiring berjalannya waktu, pikiran saya sering terganggu dengan masalah takdir, khususnya sebuah hadits dari ibnu Mas'ud (yang sangat terkenal dan sudah tidak diragukan kesahihannya), yang menyatakan bahwa setiap manusia sudah ditentukan akan celaka atau bahagia sebelum manusia tersebut dilahirkan. Bahkan, terdapat kasus dimana seseorang yang hampir sepanjang hidupnya berbuat baik, namun karena yang bersangkutan sudah ditakdirkan untuk masuk neraka, maka menjelang akhir hayatnya dia melakukan perbuatan jahat yang pada gilirannya membuat ia masuk neraka pada akhirnya. Begitu juga sebaliknya, ada juga orang yang sebagian besar hidupnya melakukan perbuatan tidak baik, namun karena dia telah ditakdirkan untuk masuk surga, maka menjelang akhir hayatnya dia bertobat dan melakukan perbuatan baik, yang pada akhirnya membuat dia masuk ke dalam surga.
Hadits tersebut sangat mengusik pikiran saya selama bertahun-tahun karena saya merasakan adanya ketidakadilan di dalam hadits tsb. Kalau meminjam bahasanya Karen Armstrong dalam bukunya "Sejarah Tuhan", takdir (predestinasi) dan keadilan Tuhan adalah dua hal yang sulit untuk dikompromikan.
Karena kegelisahan saya, kemudian saya mulai mencari "Islam alternatif". Menurut salah satu riwayat, konon katanya umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan. Maka saya mulai membaca-baca mengenai ajaran dari golongan-golongan yang ada selain golongan Aswaja. Tentu saja saya tidak mempelajari seluruh golongan yang ada, melainkan hanya membaca intisari ajaran beberapa golongan besar saja seperti Muktazilah, Qadariyah, Jabariyah, Syiah, Murjiah dll. Referensi saya pada saat itu termasuk Al Milal wan Nihal serta beberapa buku lain.
Dari apa-apa yang saya baca tersebut, saya mengetahui ternyata ada beberapa golongan yang tidak percaya kepada takdir (predestinasi). Salah satu diantaranya adalah Qadariyah. Tentu saja penamaan tersebut dilakukan oleh golongan yang di luar golongan itu sendiri. Bukankah aneh jika golongan yang mengingkari takdir (qadar) justru disebut sebagai golongan Qadariyah? Seharusnya sebutan Qadariyah tersebut disematkan kepada golongan yang mengimani Qadar secara absolut (dalam hal ini adalah golongan Jabariyah), bukan kepada mereka yang mengingkarinya.
Selain Qadariyah, golongan yang juga memilih untuk percaya kepada keadilan Tuhan, bukan kepada takdir yang memaksa, adalah golongan Muktazilah dan Syiah. Dalam banyak hal, saya pribadi setuju dengan gagasan-gagasan yang dilontarkan oleh golongan-golongan non-Ahli Sunnah tersebut. Tapi kemudian saya berpikir, bukankah golongan Ahli Sunnah wal Jama'ah adalah satu-satunya golongan Islam yang akan selamat, sedangkan golongan lain selain Aswaja adalah golongan sesat? Benarkah demikian?
Something's wrong with this ummah?
"Kalian adalah umat terbaik yang sengaja dikeluarkan untuk manusia... " (QS 3:110).
Sudah sejak lama saya merasakan bahwa ayat tsb kurang relevan di masa kini. Kalau julukan "umat terbaik" ditujukan kepada assabiqunal awwalun, tentu saja saya percaya. Tapi apakah ayat tsb masih relevan pada zaman sekarang? Saya rasa tidak. Salah satu indikator bahwa umat Islam pada masa modern ini tidak lagi merupakan umat terbaik adalah bahwa umat muslim negara-negara Arab yang kalah perang lawan umat Israel pada tahun 1967. Lho, memang apa hubungannya? Begini, kalau anda baca ayat "Kuntum khaira ummat", sebenarnya ayat tsb masih ada sambungannya, yaitu mengenai golongan Ahli Kitab. Dalam ayat selanjutnya Allah menjanjikan bahwa jika "umat terbaik" berperang melawan Ahli Kitab, maka Ahli Kitab akan lari terbirit-birit. Jadi, jika ternyata umat Islam kalah perang dari Ahli Kitab, berarti umat Islam tsb bukanlah umat terbaik yang dimaksud Allah dalam QS 3:110.
Karena saya merasa bahwa QS 3:110 tidak relevan lagi dengan umat Islam saat ini, dan karena mayoritas umat Islam saat ini merupakan golongan Ahli Sunnah wal Jama'ah, maka kemudian saya merasakan bahwa ada sesuatu yang salah dalam Ahli Sunnah wal Jama'ah. Entah itu ajarannya, doktrinnya, Kitab Sucinya, atau kitab-kitab haditsnya. Mengenai Kitab Suci, kita tahu bahwa Kitab Suci yang dipegang oleh Umat Islam saat ini adalah Mushaf Utsmani.
Unchanged Quran?
Timbul pertanyaan dalam benak saya, benarkah susunan Al Quran yang beredar di Indonesia (dan juga di Arab Saudi), yakni mushaf utsmani qira'at ashim riwayat hafs, adalah sama persis dengan Al Quran yang diturunkan kepada Nabi. Tadinya saya berpikir bahwa Al Quran yang beredar di Indonesia saat ini adalah sama persis 100% dengan Al Quran yang diturunkan kepada Nabi. Mereka bilang, tidak mungkin Al Quran berubah satu huruf pun, bahkan tidak satu tanda baca pun, karena mengubah satu huruf atau satu tanda baca akan mengubah arti, dan itu tidak mungkin terjadi karena menurut mereka Al Quran adalah satu-satunya Kitab Suci yang dijamin keasliannya oleh Allah SWT.
Benarkah demikian, bahwa ayat Al Quran tidak berubah satu huruf pun atau satu tanda baca pun? Nampaknya tidak demikian. Seperti telah disinggung di atas, Al Quran yang beredar di Indonesia saat ini adalah mushaf Utsmani qira'at ashim riwayat Hafs. Tapi qiraat dan riwayat tsb bukanlah satu-satunya qiraat atau riwayat yang ada di dunia. Qiraat yang lain antara lain qira'at Nafi dan Ibnu Katsir. Qira'at Nafi pun terdapat beberapa riwayat, diantaranya Warsy dan Qalun. Nah, qiraat dan riwayat ini ternyata memiliki sejumlah perbedaan tanda baca dengan qiraat Ashim. Misalnya, Maaliki yawmiddiin dalam surah Al Fatihah versi Ashim dibaca Maliki yawmiddin. Atau ayat 11 surah Al Ghasyiyah dimana fathah dibaca dhamah, dsb. Padahal itu baru perbedaan sesama mushaf utsmani, belum perbedaan antara mushaf utsmani dengan mushaf lainnya seperti mushaf ibnu mas'ud, mushaf ubay bin ka'ab, dlsb.
Something's missing in Islam?
Konon katanya ayat Al Quran yang pertama diturunkan adalah QS 95:1-5. Selain itu, termasuk ayat-ayat yang diturunkan pertama kali adalah awal surah Al Mudatsir serta awal surah Al Muzzammil. Nah, timbullah pertanyaan di benak saya: ketika pada awalnya Wahyu turun kepada Nabi, Nabi disuruh membaca dan Nabi disuruh untuk berdakwah (memberikan peringatan). Pertanyaan saya: apa yang harus dibaca, dan peringatan apakah yang harus disampaikan oleh Nabi? Bukankah pada saat itu Kitab Al Quran belum diturunkan, belum ada ayat tentang keesaan Tuhan, belum ada ayat tentang Hari Kiamat, belum ada ayat tentang perintah dan larangan, belum ada ayat tentang halal dan haram; lantas peringatan semacam apa yang harus disampaikan oleh Nabi? Menurut saya, akan lebih masuk akal jika pada saat itu, misalnya Malaikat Jibril menunjukkan sesuatu kepada Nabi Muhammad, semacam Shuhuf Ibrahim atau Kitab Musa yang berisikan ajaran tentang Tauhid serta sejumlah perintah dan larangan, kepada Nabi Muhammad. Kalau kasusnya seperti itu, misalnya Malaikat Jibril menunjukkan Loh-loh batu Nabi Musa kepada Nabi Muhammad di gua Hira, kemudian Malaikat Jibril berkata kepada Nabi, "Bacalah". Maka akan sangat masuk akal jika Nabi mengatakan "Aku tidak dapat membaca". Oleh karena itu, saya merasakan ada sesuatu yang kurang di dalam Islam, khususnya pada saat-saat awal diturunkannya ayat-ayat Al Quran. wa Allahu a'lam.
Namun, seiring berjalannya waktu, pikiran saya sering terganggu dengan masalah takdir, khususnya sebuah hadits dari ibnu Mas'ud (yang sangat terkenal dan sudah tidak diragukan kesahihannya), yang menyatakan bahwa setiap manusia sudah ditentukan akan celaka atau bahagia sebelum manusia tersebut dilahirkan. Bahkan, terdapat kasus dimana seseorang yang hampir sepanjang hidupnya berbuat baik, namun karena yang bersangkutan sudah ditakdirkan untuk masuk neraka, maka menjelang akhir hayatnya dia melakukan perbuatan jahat yang pada gilirannya membuat ia masuk neraka pada akhirnya. Begitu juga sebaliknya, ada juga orang yang sebagian besar hidupnya melakukan perbuatan tidak baik, namun karena dia telah ditakdirkan untuk masuk surga, maka menjelang akhir hayatnya dia bertobat dan melakukan perbuatan baik, yang pada akhirnya membuat dia masuk ke dalam surga.
Hadits tersebut sangat mengusik pikiran saya selama bertahun-tahun karena saya merasakan adanya ketidakadilan di dalam hadits tsb. Kalau meminjam bahasanya Karen Armstrong dalam bukunya "Sejarah Tuhan", takdir (predestinasi) dan keadilan Tuhan adalah dua hal yang sulit untuk dikompromikan.
Karena kegelisahan saya, kemudian saya mulai mencari "Islam alternatif". Menurut salah satu riwayat, konon katanya umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan. Maka saya mulai membaca-baca mengenai ajaran dari golongan-golongan yang ada selain golongan Aswaja. Tentu saja saya tidak mempelajari seluruh golongan yang ada, melainkan hanya membaca intisari ajaran beberapa golongan besar saja seperti Muktazilah, Qadariyah, Jabariyah, Syiah, Murjiah dll. Referensi saya pada saat itu termasuk Al Milal wan Nihal serta beberapa buku lain.
Dari apa-apa yang saya baca tersebut, saya mengetahui ternyata ada beberapa golongan yang tidak percaya kepada takdir (predestinasi). Salah satu diantaranya adalah Qadariyah. Tentu saja penamaan tersebut dilakukan oleh golongan yang di luar golongan itu sendiri. Bukankah aneh jika golongan yang mengingkari takdir (qadar) justru disebut sebagai golongan Qadariyah? Seharusnya sebutan Qadariyah tersebut disematkan kepada golongan yang mengimani Qadar secara absolut (dalam hal ini adalah golongan Jabariyah), bukan kepada mereka yang mengingkarinya.
Selain Qadariyah, golongan yang juga memilih untuk percaya kepada keadilan Tuhan, bukan kepada takdir yang memaksa, adalah golongan Muktazilah dan Syiah. Dalam banyak hal, saya pribadi setuju dengan gagasan-gagasan yang dilontarkan oleh golongan-golongan non-Ahli Sunnah tersebut. Tapi kemudian saya berpikir, bukankah golongan Ahli Sunnah wal Jama'ah adalah satu-satunya golongan Islam yang akan selamat, sedangkan golongan lain selain Aswaja adalah golongan sesat? Benarkah demikian?
Something's wrong with this ummah?
"Kalian adalah umat terbaik yang sengaja dikeluarkan untuk manusia... " (QS 3:110).
Sudah sejak lama saya merasakan bahwa ayat tsb kurang relevan di masa kini. Kalau julukan "umat terbaik" ditujukan kepada assabiqunal awwalun, tentu saja saya percaya. Tapi apakah ayat tsb masih relevan pada zaman sekarang? Saya rasa tidak. Salah satu indikator bahwa umat Islam pada masa modern ini tidak lagi merupakan umat terbaik adalah bahwa umat muslim negara-negara Arab yang kalah perang lawan umat Israel pada tahun 1967. Lho, memang apa hubungannya? Begini, kalau anda baca ayat "Kuntum khaira ummat", sebenarnya ayat tsb masih ada sambungannya, yaitu mengenai golongan Ahli Kitab. Dalam ayat selanjutnya Allah menjanjikan bahwa jika "umat terbaik" berperang melawan Ahli Kitab, maka Ahli Kitab akan lari terbirit-birit. Jadi, jika ternyata umat Islam kalah perang dari Ahli Kitab, berarti umat Islam tsb bukanlah umat terbaik yang dimaksud Allah dalam QS 3:110.
Karena saya merasa bahwa QS 3:110 tidak relevan lagi dengan umat Islam saat ini, dan karena mayoritas umat Islam saat ini merupakan golongan Ahli Sunnah wal Jama'ah, maka kemudian saya merasakan bahwa ada sesuatu yang salah dalam Ahli Sunnah wal Jama'ah. Entah itu ajarannya, doktrinnya, Kitab Sucinya, atau kitab-kitab haditsnya. Mengenai Kitab Suci, kita tahu bahwa Kitab Suci yang dipegang oleh Umat Islam saat ini adalah Mushaf Utsmani.
Unchanged Quran?
Timbul pertanyaan dalam benak saya, benarkah susunan Al Quran yang beredar di Indonesia (dan juga di Arab Saudi), yakni mushaf utsmani qira'at ashim riwayat hafs, adalah sama persis dengan Al Quran yang diturunkan kepada Nabi. Tadinya saya berpikir bahwa Al Quran yang beredar di Indonesia saat ini adalah sama persis 100% dengan Al Quran yang diturunkan kepada Nabi. Mereka bilang, tidak mungkin Al Quran berubah satu huruf pun, bahkan tidak satu tanda baca pun, karena mengubah satu huruf atau satu tanda baca akan mengubah arti, dan itu tidak mungkin terjadi karena menurut mereka Al Quran adalah satu-satunya Kitab Suci yang dijamin keasliannya oleh Allah SWT.
Benarkah demikian, bahwa ayat Al Quran tidak berubah satu huruf pun atau satu tanda baca pun? Nampaknya tidak demikian. Seperti telah disinggung di atas, Al Quran yang beredar di Indonesia saat ini adalah mushaf Utsmani qira'at ashim riwayat Hafs. Tapi qiraat dan riwayat tsb bukanlah satu-satunya qiraat atau riwayat yang ada di dunia. Qiraat yang lain antara lain qira'at Nafi dan Ibnu Katsir. Qira'at Nafi pun terdapat beberapa riwayat, diantaranya Warsy dan Qalun. Nah, qiraat dan riwayat ini ternyata memiliki sejumlah perbedaan tanda baca dengan qiraat Ashim. Misalnya, Maaliki yawmiddiin dalam surah Al Fatihah versi Ashim dibaca Maliki yawmiddin. Atau ayat 11 surah Al Ghasyiyah dimana fathah dibaca dhamah, dsb. Padahal itu baru perbedaan sesama mushaf utsmani, belum perbedaan antara mushaf utsmani dengan mushaf lainnya seperti mushaf ibnu mas'ud, mushaf ubay bin ka'ab, dlsb.
Something's missing in Islam?
Konon katanya ayat Al Quran yang pertama diturunkan adalah QS 95:1-5. Selain itu, termasuk ayat-ayat yang diturunkan pertama kali adalah awal surah Al Mudatsir serta awal surah Al Muzzammil. Nah, timbullah pertanyaan di benak saya: ketika pada awalnya Wahyu turun kepada Nabi, Nabi disuruh membaca dan Nabi disuruh untuk berdakwah (memberikan peringatan). Pertanyaan saya: apa yang harus dibaca, dan peringatan apakah yang harus disampaikan oleh Nabi? Bukankah pada saat itu Kitab Al Quran belum diturunkan, belum ada ayat tentang keesaan Tuhan, belum ada ayat tentang Hari Kiamat, belum ada ayat tentang perintah dan larangan, belum ada ayat tentang halal dan haram; lantas peringatan semacam apa yang harus disampaikan oleh Nabi? Menurut saya, akan lebih masuk akal jika pada saat itu, misalnya Malaikat Jibril menunjukkan sesuatu kepada Nabi Muhammad, semacam Shuhuf Ibrahim atau Kitab Musa yang berisikan ajaran tentang Tauhid serta sejumlah perintah dan larangan, kepada Nabi Muhammad. Kalau kasusnya seperti itu, misalnya Malaikat Jibril menunjukkan Loh-loh batu Nabi Musa kepada Nabi Muhammad di gua Hira, kemudian Malaikat Jibril berkata kepada Nabi, "Bacalah". Maka akan sangat masuk akal jika Nabi mengatakan "Aku tidak dapat membaca". Oleh karena itu, saya merasakan ada sesuatu yang kurang di dalam Islam, khususnya pada saat-saat awal diturunkannya ayat-ayat Al Quran. wa Allahu a'lam.
Om Esaaaaaaaa,,,jangan berhenti menulis!
ReplyDeleteDan kembalilah ke jalan ahlussunnah wal jamaah.
Sori sist, baru baca aku komennya
DeleteAku menulis blog jika dan hanya jika ada sesuatu di dalam pikiranku yang ingin kutuangkan dalam bentuk tulisan. Tapi itu tidak terjadi setiap hari, bahkan belum tentu terjadi setiap hari. Tulisanku tersebar dalam beberapa blog-ku, antara lain muktazilah ini, ovibos.blogspot.com, gmelini.blogspot.com, dan esagenang.blogspot.com
Tampaknya aku sudah merasa nyaman mempelajari berbagai aliran di luar ahlussunah, sehingga aku belum ada niat untuk kembali ke aliran ahlussunnah wal jama'ah