Kitab Sebelum Al Quran: Sebuah Interpretasi
"Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya." (QS 4:136)
Entah sudah berapa tahun lamanya ayat tersebut di atas mendominasi pikiran saya (kalau tidak ingin dikatakan mengganggu). Di dalam ayat tsb, Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk
beriman kepada Allah, kepada Rasul-Nya, kepada Al Quran dan kepada Kitab yang diturunkan sebelum Al
Quran. Yang mengganggu pikiran saya adalah, bahwa kata “kitab” dalam frase “kitab
yang diturunkan sebelum [Al Quran]” adalah berbentuk tunggal (singular). Jika
seandainya kata “kitab” dalam ayat tsb berbentuk jamak (plural), maka tidak ada
masalah, karena penafsirannya jelas,
yaitu seluruh kitab yang diturunkan Allah sebelum Al Quran. Tapi ternyata kata
kitab tsb adalah dalam bentuk tunggal, sehingga menimbulkan pertanyaan di benak
saya, kitab apakah yang dimaksud Allah di dalam ayat QS 4:136 di atas.
Untuk menambah rumitnya permasalahan, di dalam awal surah Al
Baqarah ada tertulis “Kitab itu
tidak ada keraguan, petunjuk bagi orang bertakwa (hudal lil muttaqin).” Fakta bahwa kata kitab dalam ayat tsb
berbentuk tunggal, dan fakta bahwa kata penunjuk yang digunakan dalam ayat tsb
adalah “itu”, bukan “ini”, menimbulkan spekulasi di dalam pikiran saya, “Jangan-jangan
Kitab yang dimaksud dalam ayat QS 2:2 tsb bukan Al Quran melainkan satu kitab
yang lain”. Karena, jika yang dimaksudkan tsb adalah Al Quran, maka semestinya kata yang digunakan adalah 'kitab ini' (hadza).
Berbagai kemungkinan pernah terlintas di benak saya. Pertama
saya beranggapan bahwa yang dimaksud dengan kitab sebelum Al Quran tsb adalah
kitab Injil. Alasan utamanya adalah karena kitab Injil merupakan kitab terakhir
yang diturunkan sebelum Al Quran, dan Nabi Isa adalah nabi terakhir yang
diutus sebelum Nabi Muhammad. Alasan lain adalah karena di dalam QS 5:46 ada
tertulis bahwa di dalam Injil terdapat petunjuk dan cahaya, serta merupakan
petunjuk serta pengajaran bagi orang-orang bertakwa. Lebih jauh lagi, di dalam
Tafsir Qurthubi ketika membahas surah Al Imran ayat 3, beliau menyampaikan
sebuah riwayat (yang saya tidak tahu tingkat kesahihannya) bahwa pada akhir
zaman kelak akan ada suatu umat yang menghafal Injil, namun kemudian dikatakan bahwa umat yang menghafal Injil tsb adalah umat Islam. Sehingga hal ini menimbulkan
spekulasi di benak saya bahwa umat Islam kelak akan membaca Injil juga selain membaca Al Quran. Namun,
setelah saya membaca Injil Perjanjian Baru dan terutama setelah saya membaca Al
Quran, maka saya merasakan bahwa bukan Injil yang dimaksud Allah dalam ayat QS
4:136 tsb di atas. Ada beberapa alasan mengapa kemudian saya merasa bahwa Injil
bukan kandidat yang tepat sebagai “pasangan” bagi Al Quran. Pertama, karena
dalam berbagai ayat Al Quran, Injil dan Taurat seperti merupakan satu kesatuan
yang tidak bisa dipisahkan. Dimana ada ayat yang menyebut tentang Injil,
biasanya ayat tsb juga menyebut tentang Taurat. Kedua, setelah saya membaca
Injil PB, saya merasakan bahwa Injil sebenarnya merupakan level advanced dari kitab Taurat. Artinya,
menegakkan ajaran Injil, imho, lebih sulit daripada menegakkan ajaran Taurat.
Jika ingin menegakkan ajaran Injil, maka seseorang seyogyanya memiliki
kesabaran setingkat dewa. Last but not
least, karena dalam beberapa ayat Al Quran disebutkan secara spesifik bahwa
kitab yang diturunkan sebelum Al Quran tersebut adalah Kitab Musa, bukan kitab Isa.
Setelah Injil gugur sebagai kandidat, kandidat berikutnya
adalah kitab Taurat. Alasan paling kuat adalah salah satu penafsiran QS 2:2 di
dalam Tafsir Ibnu Jarir, beliau menyebutkan seseorang (Mawardi?) yang
menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan “kitab itu” di dalam ayat QS 2:2 tsb
adalah Kitab Taurat. Namun, kemudian kitab Taurat pun gugur sebagai kandidat
karena beberapa alasan yang sulit untuk saya bantah. Fakta pertama adalah bahwa
di dalam Al Quran, tidak pernah sekalipun dikatakan bahwa Allah menurunkan
Taurat kepada Nabi Musa. Benar bahwa di dalam Al Quran dinyatakan bahwa Allah menurunkan sebuah kitab kepada Nabi
Musa, dan benar bahwa Allah menurunkan Taurat kepada bani Israil. Tapi Al Quran
tidak pernah menyatakan bahwa Allah menurunkan Taurat kepada Nabi Musa. Di
dalam QS 5:44 ada indikasi bahwa Kitab Taurat diturunkan kepada nabi-nabi
(dalam bentuk jamak), sehingga nabi yang dimaksud tsb tentulah bukan Nabi Musa
seorang. Hal ini diperkuat dengan teori para sarjana Alkitab yang menyatakan
bahwa Taurat yang kita kenal sekarang ini tidak ditulis oleh satu orang saja,
melainkan oleh setidaknya empat atau lima orang yang berbeda, yang
masing-masing dikenal dengan sebutan, J, E, P, dan D, serta R. Alasan kedua
yang membuat saya juga tidak yakin bahwa Taurat adalah kitab yang dimaksud
dalam QS 4:136 adalah fakta bahwa di dalam Taurat ternyata banyak peraturannya
yang tidak sesuai atau bahkan bertentangan dengan ajaran Al Quran. Misalnya unta. Di
dalam Taurat, unta jelas-jelas diharamkan. Namun di dalam Al Quran, unta
jelas-jelas dihalalkan. Sehingga tidak mungkin seseorang mengimplementasikan
hukum Taurat dan Al Quran sekaligus. Seseorang harus memilih, apakah ia akan
ikut hukum Taurat, ataukah ia ikut aturan Al Quran.
Kandidat terakhir sekaligus kandidat yang paling kuat adalah
bahwa yang dimaksud dengan Kitab sebelum Al Quran di dalam QS 4:136, dimana
orang-orang beriman diwajibkan untuk beriman kepadanya tsb adalah Kitab Musa (frase Kitab Musa secara literal disebutkan di dalam dua ayat Al Quran, yakni QS 11:17 serta 46:12). Beberapa ayat secara
spesifik menyebutkan bahwa kitab yang diturunkan sebelum Al Quran adalah Kitab
Musa, misalnya:
Apakah (orang-orang kafir
itu sama dengan) orang-orang yang ada mempunyai bukti yang nyata (Al Qur'an)
dari Tuhannya, dan diikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah dan sebelum Al Qur'an itu telah ada kitab Musa
yang menjadi pedoman dan rahmat? (QS 11:17)
Dan sebelum Al Qur'an itu telah ada kitab Musa sebagai petunjuk dan rahmat. Dan ini (Al
Qur'an) adalah kitab yang membenarkannya dalam bahasa Arab untuk memberi
peringatan kepada orang-orang yang zalim dan memberi kabar gembira kepada
orang-orang yang berbuat baik. (QS 46:12)
Mereka berkata:
"Hai kaum kami, sesungguhnya kami
telah mendengarkan kitab (Al Qur'an) yang telah diturunkan sesudah Musa
yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan
kepada jalan yang lurus. (QS 46:30)
Kemudian, hal ini diperkuat dengan Surah Al Qashash ayat
43-49, dimana Nabi Muhammad menantang orang-orang kafir Quraisy untuk
menunjukkan kitab yang lebih dapat memberikan petunjuk selain Al Quran dan
Kitab Musa. Dalam ayat surah Al Qashash tersebut, Al Quran disandingkan dengan Kitab Musa sebagai dua kitab yang memberikan petunjuk.
Namun perlu saya garis bawahi bahwa yang dimaksud dengan Kitab Musa bukanlah
Taurat. Di dalam Alkitab, memang benar bahwa Taurat dikenal dengan nama
Pentateuch atau Lima Kitab Musa (Five
Books of Moses). Namun sebagaimana telah saya singgung di atas bahwa menurut
para sarjana Alkitab, penulis kitab Taurat ternyata lebih dari satu orang.
Jadi, walaupun mungkin saja Nabi Musa menulis sebagian dari kitab Taurat, namun
ternyata ada orang lain yang menuliskan bagian-bagian lain dari kitab tsb,
sehingga Kitab Taurat tidak bisa diatributkan kepada Nabi Musa seorang. Mungkin
itulah sebabnya mengapa Al Quran tidak pernah menyatakan bahwa Allah menurunkan
kitab Taurat kepada Nabi Musa.
Pertanyaannya sekarang adalah, kitab apakah yang dimaksud
dengan Kitab Musa (kata kitab dalam bentuk tunggal). Kita tahu bahwa Kitab Musa
bukanlah Pentateuch atau Five Books of Moses, karena Pentateuch tsb adalah lima
kitab yang berbeda dari beberapa penulis yang berbeda, bukan dari satu penulis
yang sama. Dugaan pertama saya adalah bahwa yang dimaksud dengan Kitab Musa
adalah Kitab Ulangan atau Deuteronomy. Salah satu alasannya adalah ketika di
dalam Kitab 2 Raja-raja Pasal 22, ketika
Imam Besar Hilkia berkata kepada Safan, “Telah kutemukan kitab Taurat di dalam
rumah Tuhan”, para ahli telah sepakat bahwa kitab yang dimaksud adalah Kitab
Ulangan atau Deuteronomy. Apalagi para sarjana Alkitab mengatakan bahwa Kitab
Deuteronomy tsb memang merupakan gubahan dari satu orang penulis, bukan dari
beberapa penulis yang berbeda. Namun kemudian, Kitab Ulangan ini pun gugur
sebagai kandidat dalam benak saya karena beberapa alasan. Antara lain karena
Kitab Ulangan memuat hukum yang berlawanan dengan Al Quran (misalnya tentang
haram/halalnya unta). Kemudian, Kitab Ulangan jelas tidak ditulis oleh Nabi
Musa, karena di dalam Kitab Ulangan tsb terdapat kisah tentang kematian Nabi
Musa, sehingga kita tidak mungkin mengatributkan Kitab Deuteronomy kepada Nabi Musa. Namun alasan yang mungkin paling kuat adalah bahwa para sarjana Alkitab
sepakat bahwa Kitab Deuteronomy merupakan kitab yang ditulis belakangan, yaitu tepatnya sekitar tahun 600SM-500 SM.
Indikasinya antara lain di dalam Kitab Ulangan terdapat satu perintah khusus
yang menyebutkan satu tempat ibadah untuk tempat korban bakaran, korban
sembelihan dsb sementara perintah spesifik ini sepertinya tidak diketahui pada
masa sebelumnya (masa sebelum Raja Yosia).
Setelah Kitab Ulangan gugur, maka kandidat berikutnya adalah
Kitab Yobel alias Kitab Yovelim atau the Book of Jubilees, yang juga dikenal
sebagai Little Genesis atau Kitab Kejadian Kecil. Ada juga yang meyebutkan
kitab ini sebagai Apocalypse of Moses atau the Testament of Moses. Dari segi
namanya saja, Kitab Yobel atau Jubilees ini cukup menjanjikan sebagai Kitab
Musa. Apalagi jika dilihat dari konsep penulisan kitab ini, sedikit banyak
terdapat kemiripan antara pendiktean Kitab Yobel dengan cara Al Quran
diwahyukan. Menurut prolog di dalam Kitab Yobel ini, kitab Yobel ini didiktekan
langsung oleh seorang Malaikat kepada Nabi Musa. Ini mirip dengan Al Quran yang disampaikan melalui perantaraan Malaikat Jibril. Juga selain itu, di dalam kitab ini
dikenal adanya sesuatu yang disebut sebagai Heavenly Tablets , yang
sangat mirip dengan konsep Lauhul Mahfuzh di dalam Islam. Isi di
dalam Kitab Jubiles sendiri
sebenarnya banyak memiliki kemiripan dengan Kitab Kejadian atau Kitab Genesis,
oleh karena itu ia disebut juga sebagai Kitab Kejadian Kecil atau the
Little Genesis. Banyak hal menarik yang terdapat di dalam Kitab
Jubilees yang tidak kita dapatkan pada Kitab Genesis, misalnya antara lain perintah atau
pesan Nabi Nuh kepada anak-anaknya, yang digadang-gadang oleh sebagian scholars sebagai dalil dari Seven Laws
of Noah. Kemudian, di kitab Jubilees ini juga terdapat satu doa dari Abraham
yang mirip-mirip dengan Doa Bapa Kami di dalam Injil Matius dan Lukas, serta
mirip dengan surah Al Fatihah di dalam Al Quran. Doa Nabi Ibrahim yang ada di
dalam Kitab Jubilees ini saja sudah cukup memberikan alasan untuk menjadikan
Kitab Jubilees ini sebagai kitab yang istimewa, karena Kitab Jubilees ditulis
sebelum Al Quran dan juga Injil.
Namun kemudian ada beberapa sebab yang membuat saya merasa
kurang yakin bahwa yang dimaksud dengan Kitab Musa adalah Kitab Yobel atau the
Book of Jubilees. Pertama, karena menurut para scholars, Kitab Yobel baru
ditulis pada sekitar abad ke-2 Sebelum Masehi, atau sekitar seribu tahun
setelah Nabi Musa wafat. Jadi, sangat sukar untuk mengatributkan kitab Yobel
ini kepada Nabi Musa. Alasan kedua adalah karena Kitab Yobel tidak diakui
sebagai kitab resmi dalam kanon Alkitab Yahudi maupun Nasrani pada umumnya.
Kitab Yobel memang diakui sebagai bagian dari kanon Alkitab pada kanon Alkitab-nya
orang Ethiopia, namun itu pun diletakkan pada urutan belakangan, artinya Kitab
Yobel tidak ditempelkan pada kitab Taurat. Ini artinya bahwa orang Ethiopia
sendiri mungkin menyadari bahwa Kitab Yobel mungkin memang ditulis belakangan
atau ratusan tahun setelah Taurat ditulis. Memang benar bahwa Kitab Yobel
merupakan salah satu naskah yang ditemukan dalam Dead Sea Scrolls, yang artinya
bahwa kitab ini memiliki bukti sejarah yang cukup baik; namun hal ini saja belum
cukup kuat untuk dijadikan dalil bagi keabsahan Kitab Yobel. Namun, alasan yang
paling membuat saya untuk menggugurkan Kitab Yobel dalam kandidat sebagai kitab
sebelum Al Quran adalah karena surah Ash Shaff ayat 6 yang baru saya baca dan
renungkan kembali akhir-akhir ini.
Di dalam terjemahan Al Quran berbahasa Indonesia sering
dinyatakan bahwa Al Quran membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya.
Namun, kalau kita melihat teks bahasa Arab-nya, maka kita akan menemukan bahwa
frase yang digunakan adalah mushaddiqallimaa baina yadaihi, misalnya
di QS 3:3, 2:97, 5:48, dlsb, yang kalau kita terjemahkan secara harfiah berarti
“membenarkan apa yang ada di antara
kedua tangannya”. Sampai saat ini pun saya kurang mengerti mengapa Al Quran
menggunakan istilah tersebut (membenarkan
apa yang ada di antara kedua tangannya). Nah, kemudian saya baru teringat
kembali kepada QS 61:6, dimana di ayat tsb Nabi Isa berkata "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah
utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat …”, atau kalau dalam teks bahasa Arab akan kita
dapatkan mushaddiqallimaa baina yadayya yang secara literal berarti membenarkan apa yang ada di antara
kedua tanganku, yaitu [sebagian] dari Taurat. Frase Al Quran membenarkan apa yang ada di antara kedua tangannya kemungkinan besar maksudnya sama dengan apa yang dibenarkan oleh Nabi Isa ketika beliau membenarkan apa yang ada di antara kedua tangan beliau. Nah, dari ayat QS 61:6 di
atas saya menjadi yakin bahwa Kitab Jubilees bukanlah kitab yang dimaksud
sebagai kitab sebelum Al Quran (maupun sebelum Nabi Isa), karena di dalam ayat
61:6 tsb, Nabi Isa secara spesifik menyatakan bahwa yang beliau benarkan adalah
minat Taurat yang bisa diartikan sebagai dari Taurat, atau dari sebagian Kitab
Taurat (bukan seluruh kitab Taurat itu sendiri dari Genesis sampai
Deuteronomy).
Berangkat dari QS 61:6 itulah kemudian saya pada akhirnya
mengambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan kitab sebelum Al Quran di dalam QS
4:136, 11:17, 46:12 dll yaitu Kitab Musa, adalah bagian dari Taurat atau bagian
dari Kitab Pentateuch (bukan seluruh kitab Pentateuch).
Dugaan awal saya, kemungkinan
besar, bagian yang dimaksud tersebut adalah Kitab Kejadian dan Kitab Keluaran sampai dengan Pasal 20 ketika diturunkannya Sepuluh Perintah, atau sampai dengan Pasal 24 ketika diturunkannya the Covenant Code. Intinya, rentang waktu yang ada di dalam kedua kitab tsb adalah sama persis dengan rentang waktu yang ada di dalam the Book of Jubilees, yaitu mulai dari penciptaan manusia (Adam) sampai dengan Nabi Musa menerima Perintah di Gunung Sinai. Dan Kitab Kejadian dan Kitab Keluaran s.d. Pasal 20 atau Pasal 24 harus dianggap sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Kenapa saya menganggap bahwa kitab Genesis
dan Exodus merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan? Antara lain
karena menurut para scholars bahwa penulis Kitab Kejadian adalah sama persis
dengan penulis Kitab Keluaran. Hal ini sedikit berbeda dengan Kitab Imamat yang
ditulis oleh P seorang, atau Kitab Ulangan yang ditulis oleh D seorang. Alasan
lainnya adalah karena dalam setidaknya dua naskah Dead Sea Scrolls ditemukan
bahwa Kitab Genesis digandeng dengan Kitab Exodus, yang secara tidak langsung menyatakan bahwa sejak
zaman dahulu pun Kitab Genesis sudah dianggap sebagai satu kesatuan yang tidak
bisa dipisahkan dari Kitab Exodus. Last but not least, di dalam Kitab Genesis
maupun Kitab Exodus, belum terdapat perintah-perintah rumit yang khas untuk
umat Israel seperti pengharaman binatang haram yang sangat banyak jenisnya, korban-korban
bakaran yang peraturannya sangat njelimet bagi orang awam, dlsb. Di dalam Kitab
Keluaran memang terdapat perintah untuk mengingat hari Sabtu. Namun, kemudian
secara tidak sengaja, saya membaca artikel dari seorang rabbi Yahudi pada situs
breakingisraelnews.com yang intinya menyatakan bahwa bangsa gentiles atau
bangsa non Yahudi-pun diperintahkan untuk mengingat Hari Sabat. Dan seperti
saya tulis di atas, perintahnya adalah untuk mengingat (remember), bukan untuk meng-observe Hari Sabat. Mengingat (remember) dan
meng-observe adalah dua hal yang berbeda. Poin yang ingin saya sampaikan adalah
bahwa perintah-perintah yang ada pada Kitab Keluaran sebagian besar bersifat
umum, dan bisa dilaksanakan oleh siapa pun, termasuk oleh bangsa non-Yahudi (gentiles).
Sehingga pada saat itu saya berpendapat bahwa kitab yang
dimaksud di dalam QS 4:136, 46:12 dsb adalah Kitab Genesis dan Kitab Exodus yang dianggap sebagai satu kesatuan. Maka seyogyanya seorang muslim diharapkan
mengamalkan perintah dan menjauhi perintah yang ada di dalam Kitab Genesis dan
Exodus s.d. Pasal 20 atau s.d. Pasal 24 sebatas kemampuan dia, seperti misalnya tidak membuat patung, tidak
melakukan sihir, tidak bersetubuh dengan binatang, tidak menerima suap, dlsb.
Edited:
Edited:
Namun, ternyata itu pun membuat saya belum merasa puas. Sampai akhirnya saya membaca Surah Al A'raaf dan Al An'am , khususnya Al A'raaf ayat 145 dan ayat 154, serta surah Al An'am ayat 154. Di dalam Surah Al An'am ayat 154 tsb, disebutkan bahwa Allah memberikan [sebuah] Kitab kepada Musa dimana kitab tersebut berfungsi untuk menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat. Kemudian di dalam surah Al A'raaf ayat 145 dinyatakan bahwa Allah menuliskan pada loh-loh batu yang diberikan kepada Musa sebagai penjelasan untuk segala hal, sedangkan pada ayat 154-nya ada tertulis bahwa pada loh-loh tersebut terdapat petunjuk dan rahmat. Dengan kata lain, kata keterangan yang digunakan untuk Kitab Musa pada Al An'am 154 (wa tafshilallikulli sya'in wa huda wa rahmah), adalah sama persis dengan keterangan yang digunakan untuk loh-loh [batu] yang diberikan kepada Musa pada surah Al A'raaf 145 (wa tafshilallikulli syai'in) dan Al A'raaf 154 (wa huda wa rahmah). Dengan demikian, nampaknya pendapat yang paling kuat adalah bahwa yang dimaksud dengan Kitab Musa adalah sama dengan loh-loh batu yang diberikan Allah kepada Nabi Musa, yang isinya tidak jauh dari Sepuluh Perintah Tuhan atau the Ten Commandments yang terkenal itu dengan perintah-perintah yang sudah sangat familiar di kalangan orang-orang Yahudi dan Kristen seperti jangan ada padamu ilah lain selain Aku, jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, dll
Edited 5 Juli 2020, or maybe Final opinion?
Tadinya sempat terpikir juga bahwa yang dimaksud dengan "Kitab yang diturunkan sebelum Quran" adalah Tanakh atau Alkitab Perjanjian Lama atau disebut juga sebagai the Jewish Bible. Pertama karena di dalam QS 2:89 dan 2:91 dinyatakan bahwa Al Quran itu adalah Kitab yang membenarkan apa yang ada pada mereka, dimana mereka yang dimaksud di sini adalah orang-orang Yahudi Madinah. Dan kitab suci orang Yahudi Madinah kemungkinan besar adalah Tanakh. Di samping itu, alasan lain adalah karena Tanakh kemungkinan besar merupakan Kitab yang dibaca Yesus ketika beliau masih hidup di bumi (ingat frase 'membenarkan apa yang ada di antara kedua tanganku'?). Hal ini diperkuat bahwa di dalam Injil Matius 23:35 dan Injil Lukas 11:51, ketika Yesus mengecam orang-orang Farisi, Yesus menyebutkan tentang darah Habel hingga darah Zakharia. Apa yang disebutkan oleh Yesus tsb kemungkinan besar merupakan sebuah allusion mengenai pembunuhan pertama kali orang tak bersalah yang disebutkan di dalam kitab pertama Tanakh (Alkitab Yahudi) yaitu Kitab Kejadian (Bereshit) hingga pembunuhan terakhir yang disebutkan dalam kitab terakhir Tanakh, yaitu Kitab Tawarikh. Namun kemudian saya teringat bahwa di dalam QS 4:136 ini Al Quran menggunakan istilah nazzala ala rasulihi dan anzala min qablu. Nah, dalam tafsir Imam Qurthubi ketika membahas ayat QS 3:3, Imam Qurthubi menyatakan bahwa kata nazzala berbeda dengan anzala, dimana jika kata nazzala menyatakan bahwa cara penurunkan kitab/wahyu tersebut adalah secara berangsur-angsur, maka kata anzala mengisyaratkan bahwa cara penurunan kitab tsb secara sekaligus. Padahal jelas-jelas bahwa Kitab Tanakh tidak diturunkan secara sekaligus melainkan secara berangsur-angsur selama kurun waktu hampir seribu tahun. Jika penjelasan Imam Qurthubi tsb benar maka dengan demikian secara grammar yang dimaksud dengan 'Kitab yang diturunkan sebelum Quran' tsb bukanlah Kitab Tanakh.
Kemudian beberapa waktu lalu saya "menemukan" novum (bukti baru?) akan sesuatu naskah yang kemudian dikenal sebagai Naskah Shapira atau Shapira Manuscript. Apakah Shapira Manuscript itu? Shapira Manuscript adalah sebuah naskah kuno yang ditemukan oleh seseorang bernama Moshes Shapira, seorang penjual barang antik di Yerusalem, pada abad ke-19 Masehi. Shapira mengklaim bahwa naskah ini ditemukan di sekitar Laut Mati dan naskah yang ditemukannya ini merupakan bagian dari Kitab Ulangan (Deuteronomy) yang berusia sangat tua, bahkan jauh lebih tua dari pada naskah Kitab Deuteronomy manapun , termasuk versi Dead Sea Scrolls.
Namun masalahnya, beberapa scholars di masa itu menyatakan bahwa Shapira Manuscript itu palsu (forgery) karena mereka percaya bahwa naskah kuno tidak akan mampu bertahan selama ribuan tahun pada kondisi iklim Laut Mati. Karena malu dan kecewa, akhirnya Moshes Shapira bunuh diri, dan kemudian Shapira Manuscript itupun terjual dengan harga yang tidak setinggi yang diharapkan Moshes Shapira, dan kemudian naskah Shapira tsb akhirnya tidak ketahuan juntrungannya. Namun belakangan setelah ditemukannya sejumlah besar naskah kuno di sekitar Laut Mati (Dead Sea Scrolls) pada tahun 1947, barulah scholars belakangan mulai berpikir ulang bahwa jangan-jangan Shapira Manuscript tsb bukanlah hoax. Untungnya walaupun naskah asli Shapira Manuscirpt sudah hilang entah kemana, namun ternyata masih ada salinannya, dan kemudian saya sempat mendapatkan terjemahan dari Shapira Manuscript yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh John Allegro.
Ada beberapa hal yang membuat saya cukup percaya bahwa mungkin saja Shapira Manuscript memang benar-benar merupakan naskah kuno Alkitab yang jauh lebih tua daripada Dead Sea Scrolls sekalipun. Sebagai informasi, naskah DSS diperkirakan ditulis sekitar abad ke-2 Sebelum Masehi, sedangkan naskah Shapira Manuscipt boleh jadi ditulis pada abad ke-8 SM atau beberapa ratus tahun sebelum DSS. Berikut beberapa alasan pro's kenapa naskah Shapira Manuscript layak dianggap sebagai naskah Alkitab kuno yang "lebih orisinil" ketimbang DSS ataupun Masoretic Text:
Pertama, Shapira Manuscript memuat Sepuluh Perintah Tuhan (the Ten Commandments), dan tepat ada 10 Perintah Tuhan dalam versi Shapira Manuscript ini. Lho, bukannya Sepuluh Perintah Tuhan juga ada di Alkitab biasa, baik di Kitab Keluaran Pasal 20 maupun di Kitab Ulangan Pasal 5? Begini, jadi walaupun seluruh umat Yahudi, Katolik, maupun Protestan percaya bahwa terdapat Sepuluh Perintah dalam Kitab Kejadian dan Ulangan tsb, namun ternyata terdapat perbedaan versi penomoran perintah dalam Sepuluh Perintah tsb. Menurut versi Protestan, perintah pertama dari Sepuluh Perintah adalah, "Akulah Tuhan, jangan ada padamu ilah lain di hadapanku", sedangkan perintah kedua adalah, "Jangan membuat patung yang menyerupai apapun."
Nah, sementara di versi Katolik, kedua perintah tsb dianggap sebagai satu kesatuan perintah. Konsekuensinya adalah, jika menurut versi Protestan perintah kesepuluh adalah "Jangan mengingini istri sesama, jangan mengingini hamba
nya, lembunya, dan apapun yang dimiliki sesamamu", maka menurut versi Katolik, perintah kesepuluh ini terpaksa dipecah menjadi dua (menjadi perintah ke-9 dan perintah ke-10) untuk menggenapkannya menjadi Sepuluh Perintah. Mana yang benar? Dalam hal perintah pertama, saya pribadi nampaknya sepakat dengan versi Katolik bahwa "Jangan ada padamu ilah lain" nampaknya merupakan satu kesatuan perintah dengan "Jangan membuat patung yang menyerupai apapun." Namun untuk perintah "Jangan mengingini istri sesamamu dst" saya sepakat dengan versi Protestan bahwa itu adalah satu perintah tunggal, bukan dua. Konsekuensinya adalah ternyata di dalam Kitab Keluaran 20 serta Ulangan 5 hanya terdapat Sembilan Perintah saja, bukannya sepuluh. Nampaknya orang-orang Samaritan pun sudah menyadari akan hal tersebut sehingga mereka menambahkan satu perintah ekstra dalam kanon Taurat mereka (Samaritan Pentateuch). Perintah kesepuluh versi Samaritan Pentateuch tsb adalah "Haruslah kamu mendirikan altar di Gunung Gerizim". Well, saya pribadi kok tidak yakin bahwa 'mendirikan altar di Gunung Gerizim' adalah perintah kesepuluh yang hilang tsb. Nah ... disinilah salah satu keunggulan dari Shapira Manuscript. Menurut versi Shapira Manuscript, perintah kesepuluh tersebut adalah "Jangan membenci saudaramu di dalam hatimu" atau selaras dengan Imamat 19:17. Menurut saya, perintah kesepuluh versi Shapira ini jauh lebih masuk akal ketimbang versi Samaritan Pentateuch. Bahkan Sepuluh Perintah versi Shapira Manuscript ini lebih masuk akal ketimbang versi Katolik maupun Protestan. Inilah alasan pertama mengapa saya cukup percaya bahwa Shapira Manusricpt nampaknya lebih otentik ketimbang Kitab Taurat (khususnya Ulangan/Deuteronomy) yang beredar saat ini (versi Masoretic Text).
Kedua, isi utama dari Shapira Manuscript tidak jauh dari Sepuluh Perintah Tuhan (Ten Commandments) yaitu Sepuluh Perintah itu sendiri ditambah dengan sepuluh ucapan berkat dan sepuluh ucapan kutuk. Sehingga hal ini memperkuat kesimpulan saya sebelumnya bahwa inti dari Kitab Musa itu isinya tidak jauh berbeda dari tulisan yang terdapat pada loh-loh batu, yaitu antara lain mengenai the Ten Commandments.
Ketiga, dalam Kitab Ulangan yang beredar saat ini (versi Masoretic Text), terdapat 6 suku Israel yang mengucapkan berkat di Gunung Gerizim, yaitu suku Simeon, Lewi, Yehuda, Isakhar, Yusuf, dan Benyamin. Sedangkan keenam suku sisanya bertugas untuk mengucapkan kutuk di Gunung Ebal. Namun masalahnya adalah di dalam Kitab Deuteronomy yang ada pada saat ini (baik versi Masoretic Text, versi Samaritan, maupun versi DSS) ternyata hanya ada ucapan kutuk saja yang berjumlah 12 ucapan kutuk. Sementara ucapan berkat tidak disebutkan sama sekali. Ucapan berkat inilah yang menghilang dari Alkitab saat ini. Nah, ternyata, ucapan berkat ini terdapat dalam naskah Shapira Manuscript. Namun yang lebih meyakinkannya lagi adalah bahwa jika menurut Alkitab versi saat ini ke-12 ucapan kutuk tsb sepertinya "arbitrary" alias ngacak dan nggak nyambung dengan Sepuluh Perintah Tuhan, ternyata dalam versi Shapira Manuscript, baik ucapan berkat maupun ucapan kutuk (yang sama-sama berjumlah sepuluh), ternyata sangat selaras dengan Sepuluh Perintah. Hal ini membuat saya bertambah yakin bahwa nampaknya versi Shapira Manuscript lebih masuk akal ketimbang Deuteronomy versi Alkitab saat ini (existing).
Keempat, sebagian besar ayat-ayat yang ada dalam Shapira Manuscript sebenarnya ada padanannya dalam Pentateuch menurut Alkitab eksisting (versi Masoretic Text), hanya saja ayat-ayat tsb tersebar pada beberapa kitab yang berbeda, seperti Deuteronomy, Numbers (Bilangan), Leviticus (Imamat), dan juga Exodus (Keluaran). Nah, hal ini mengingatkan saya kepada salah satu frase di dalam Al Quran bahwa mereka (orang-orang Yahudi) telah mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Dengan kata lain, susunan ayat yang ada di dalam Alkitab eksisting tidaklah seperti yang seharusnya. Jadi, boleh jadi susunan ayat yang benar bukanlah susunan ayat sebagaimana versi eksisting melainkan justru versi Shapira inilah yang benar. Hal ini tidak bertentangan dengan perkataan Yesus bahwa beliau membenarkan apa yang ada di antara kedua tangannya dari [sebagian] Taurat, karena memang benar bahwa sebagian dari Taurat tersebut mengandung kebenaran (Al Haqq), walaupun mungkin saja kebenaran tsb tercecer dalam berbagai ayat yang berbeda. Bahkan hal ini semakin menguatkan QS 6:91 bahwa sesungguhnya orang-orang Yahudi terdahulu telah membuat Kitab Musa menjadi tercecer atau tersebar ke dalam beberapa lembaran kertas yang terpisah atau ke dalam beberapa buku yang berbeda.
Last but not least, Hampir seluruh bagian dari Shapira Manuscript ini dinarasikan oleh Nabi Musa sendiri, atau mirip-mirip dengan Kitab Deuteronomy yang ada saat ini. Hanya saja bedanya adalah jika di versi Deuteronomy terdapat perikop mengenai kematian Nabi Musa, maka di versi Shapira perikop tsb tidak ada. Dengan demikian dari awal sampai akhir hampir seluruh isi dari Shapira Manuscript merupakan kata-kata Nabi Musa belaka. Sehingga dengan demikian sangat pantaslah rasanya jika naskah ini dapat disebut juga sebagai Kitab Musa (karena memang sebagian besar isinya ya hanya kata-kata Nabi Musa).
Namun demikian, tetap ada juga sedikit alasan kontra (con's) bahwa Shapira Manuscript mungkin bukanlah yang dimaksud dengan Kitab yang diturunkan sebelum Al Quran di dalam QS 4:136. Alasan tsb antara lain:
Pertama, dalam Shapira Manuscript disebutkan mengenai dua loh batu. Hal ini sangat sesuai dengan apa yang ada pada Alkitab eksisting. Masalahnya adalah bahwa di dalam Al Quran, Quran menggunakan istilah Alwah (dan bukan lawhaini) yang artinya jumlah loh batu tsb minimal ada tiga, bukan dua.
Alasan kedua adalah bahwa di dalam Shapira Manuscript disebutkan bahwa Nabi Musa membanting kedua loh batu tsb sampai hancur, kemudian Tuhan memerintahkan Nabi Musa untuk membuat kembali dua loh batu yang baru. Ini pun sesuai dengan Alkitab Eksisting. Masalahnya adalah di dalam surah Al A'raaf dinyatakan bahwa memang benar bahwa Nabi Musa membanting loh batu tsb namun loh batu tsb tidak sampai hancur, sehingga kemudian Nabi Musa memungut kembali loh batu tsb. Dengan kata lain, menurut Al Quran tidak ada ceritanya pembuatan loh batu yang baru.
Nevertheless, walaupun andaikata seandainya Shapira Maniscript bukanlah Kitab Musa yang asli persis sebagaimana kata-kata Nabi Musa kepada bangsa Israel ribuan tahun yang lalu, setidaknya Shapira Manuscript telah memberikan gambaran atau bayangan, seperti apakah Kitab Musa yang asli tsb. Saya percaya, Kitab Musa yang asli, mirip dengan Shapira Manuscript, yaitu bahwa text Kitab Musa yang nampaknya merupakan ayat-ayat yang tersebar atau tercecer ke dalam Lima Buku Taurat (Pentateuch) mulai dari Genesis sampai dengan Deuteronomy.
Edited 24 Oktober 2022:
Namun, lagi-lagi saya belum puas dengan pendapat saya sebelumnya. Hal ini antara lain disebabkan karena ketika Al Quran menyebutkan kitab (atau kitab-kitab sebelum Quran), ia menyebutkan dengan frase mushaddiqallimaa bayna yadaihi, atau kalau diterjemahkan secara harfiah berarti apa yang ada di antara kedua tangannya. Tangannya siapa? Kemungkinan tangan yang dimaksud adalah tangan Isa bin Maryam! Kenapa tangan Nabi Isa bin Maryam? Karena dalam dua ayat lainnya, Nabi Isa pun menggunakan frase yang hampir sama, mushaddiqallimaa bayna yadayya yang kalau diterjemahkan secara harfiah berarti membenarkan apa yang ada diantara kedua tanganku.
Lalu kitab apa yang ada di tangan Nabi Isa? Kemungkinan Kitab Musa (the Ten Commandments atau Shapira Manuscript), kemudian kitab Taurat, dan Injil. Ketiganya merupakan satu kesatuan. Inilah yang menurut saya paling masuk akal.
Edited 20 Juli 2023:
Dalam tafsir Ibnu Katsir ketika mengomentari ayat An Nisa 136, terdapat keterangan: "mengenai kotab Al Quran, hal ini diungkapkan dengan memakai lafaz nazzala, karena Al Quran diturunkan secara berangsur-angsur lagi terpisah-pisah disesuaikan dengan kejadian-kejadiannya menurut apa yang diperlukan oleh semua hamba dalam kehidupan di dunia dan kehidupan akhirat mereka. Adapun kitab-kitab terdahulu, maka semuanya diturunkan sekaligus. Karena itulah dalam ayat ini disebutkan wal kitaabilladzii anzala min qablu.
Komentar saya:
Saya sepakat dengan penafsir bahwa kata nazzala berbeda dengan anzala. Jika kata nazzala mengindikasikan bahwa kitab diturunkan secara berangsur-angsur, maka kata anzala mengindikasikan bahwa kitab diturunkan secara sekaligus.
Namun perlu diingat bahwa kata "kitab" dalam frase kitab sebelum Quran tsb disebutkan dalam bentuk tunggal, bukan plural (kutub). Padahal, kalau kitab tsb maksudnya kitab-kitab (plural) sebelum diturunkannya Al Quran, bukankah kitab-kitab tsb diturunkan dalam waktu yg berbeda-beda? Bahkan kitab Zabur pun saya yakin ditulis dalam kurun waktu bertahun-tahun, bukan sekali jadi.
Karena kitab sebelum Quran tsb dalam bentuk tunggal dan mengindikasikan bahwa bahwa kitab itu diturunkan sekaligus, maka saya menduga bahwa kitab tsb adalah satu kitab tertentu, yang menurut dugaan saya saat ini (per tahun 2023) adalah Kitab Injil. Dan, lebih spesifik lagi, kitab yang dimaksud adalah Injil Lukas. Saya berpendapat demikian karena kitab Injil, terutama Injil Lukas, ditujukan untuk seluruh umat manusia, sebagaimana halnya Al Quran.
Dengan demikian ayat An Nisa 136 ini berbicara tentang beriman kepada Al Quran dan Injil, yaitu dua kitab universal yang ditujukan bagi seluruh umat manusia, dan juga sekaligus merupakan dua kitab suci yang diingkari oleh mayoritas orang-orang Yahudi (QS 28:48-49).
Wa Allahu a’lam
Kutipan dari BreakingIsraelNews.com
ReplyDeleteSanhedrin’s Noahide Court: Messiah Revealed When Nations Keep the Sabbath
By Adam Eliyahu Berkowitz January 10, 2019 , 3:01 pm
Rabbi Yoel Schwartz, head of the Sanhedrin’s Noahide Court and of the Dvar Yerushalayim Yeshiva, stated that one of the reasons the Messiah has yet to reveal himself is because the non-Jewish nations are not keeping the Sabbath. The rabbi has put out a call for the nations to keep the Sabbath and for the Jews to help them in this mission.
The rabbi stated that the Jews were given the Torah in order to teach it to the nations.
“We are to teach the nations about Hashem (God, literally ‘the name’) and if we do not, the opposite will happen. We will learn idolatry from them, God forbid,” Rabbi Schwartz told Breaking Israel News. “Every Jew knows that the basis of the Torah is the Sabbath. Someone who does not keep the Sabbath, it is as if they are worshiping idols.”
Rabbi Schwartz explained that many of the problems facing the world today are due to not recognizing the Sabbath.
Rabbi Schwartz based his call for non-Jews to keep the Sabbath on a simple reading of the Bible in conjunction with a close reading of the Ten Commandments. He first cited the Talmud (Shabbat 118b) which states, “Were Israel to keep two Sabbaths as commanded, they would be immediately redeemed.” He explained that the simple reading implies two Sabbaths in a row establishing a level of regular observance. The rabbi also explained that an alternative reading might be two different Sabbaths: one of ‘remembering the Sabbath’, what the rabbi calls a ‘universal Sabbath’, and another of ‘observing the Sabbath’, what the rabbi calls a Sabbath for the Jews.
He explained that these are two different aspects of the Sabbath described in the Ten Commandments. The Ten Commandments are listed twice in the Bible but there is a subtle difference between how the Sabbath is related to in each of these separate listings.
Remember the Shabbat day and keep it holy. Exodus 20:8
Observe the Shabbat day and keep it holy, as Hashem your God has commanded you. Deuteronomy 5:12
“The first set of tablets were written by God and the commandment to remember the Sabbath was a universal commandment,” Rabbi Schwartz explained. “That is to ‘remember’ the Sabbath. Since it was universal, it was followed by a description of creation.”
“For in six days Hashem made heaven and earth and sea, and all that is in them, and He rested on the seventh day; therefore Hashem blessed the Shabbat day and hallowed it. Exodus 20:11
“By not instructing the nations in their requirement to ‘remember the Sabbath’, by actually preventing them from taking part in the Sabbath, the Jews have prevented the full light of Moshiach (Messiah) from being revealed in the world,” Rabbi Schwartz said.
Rabbi Schwartz explained that these two different versions of the Sabbath commandment generate two different types of Sabbaths; one for Jews and one for the nations. The Jews are required to both ‘remember’ and ‘observe’, performing the positive commandments as well as refraining from the 39 forbidden forms of labor. The positive mitzvah of remembering the Sabbath is encompassed in reciting kiddush (sanctifying) the Sabbath, usually performed over a glass of wine. He also recommended that non-Jews light two candles to bring in the Sabbath. This is typically performed by women. The rabbi ruled that if a non-Jew does so for the Sabbath at the proper time and day, a blessing including the name of God may be recited.