Galau tingkat dewa: I still haven't found the answers

Sebagaimana banyak orang pada umumnya, saya pun memiliki beberapa pertanyaan seputar tujuan dan arti dari hidup  ini (the purpose and the meaning of life) yang berkecamuk di dalam batin saya selama bertahun-tahun. Setidaknya ada tiga pertanyaan di benak saya yang jika pertanyaan tersebut dijawab secara sok tahu maka jawaban sok tahu tersebut bukannya menjawab pertanyaan melainkan malah bikin emosi dan menambah runyam permasalahan.
Adapun pertanyaan tersebut seperti ini:

1. Kenapa Tuhan menciptakan manusia?
Belasan tahun yang lalu, di salah satu forum di internet yaitu myquran, ada seorang TS yang menanyakan pertanyaan serupa, "Mengapa Tuhan menciptakan manusia?". Di awal postingan sang TS sudah menyatakan bahwa dia tidak menghendaki QS 51:56 sebagai jawabannya karena dia sudah mengetahui ayat tersebut dan yang dia tanyakan bukan itu.
Namun demikian ternyata tetap saja ada member sok tahu yang menjawab bahwa Tuhan menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya dengan mengutip ayat QS 51:56. Jawaban seperti ini kalau diberikan kepada seorang atheist tentu akan di-skak mat oleh si ateis tersebut sebagaimana dikisahkan dalam bukunya Jeffrey Lang, Even Angels Ask. Dalam percakapan imaginer antara seorang muslim dan seorang atheist yang digambarkan dalam buku tersebut, ketika si muslim menjawab bahwa Tuhan menciptakan  manusia untuk beribadah kepada-Nya, maka si atheist akan menyanggah bahwa jika begitu maka sebenarnya Tuhanlah yang membutuhkan manusia, Tuhanlah yang membutuhkan untuk disembah oleh manusia. Pendeknya, jika demikian maka bukan manusia yang membutuhkan Tuhan, melainkan Tuhanlah yang membutuhkan manusia. Dan terus terang, saya pun tidak bisa menyanggah logika si atheist.
Mungkin alternatif jawaban yang lebih baik untuk pertanyaan mengapa Tuhan menciptakan manusia adalah karena Tuhan ingin menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Namun jawaban ini akan dielaborasi lebih lanjut pada pertanyaan ketiga nanti.

2. Kenapa kita harus bersyukur kepada Tuhan?
Salah satu jawaban sok tahu adalah karena Tuhan menciptakan oksigen secara gratis, kita tidak perlu membayar kepada Tuhan untuk udara yang kita hirup.
Well, menurut saya, karena sejak awal bahwa Tuhanlah yang berinisiatif untuk menciptakan manusia, maka sudah sewajarnya jika Tuhan harus menyediakan segala sarana dan prasarana yang dibutuhkan manusia agar manusia dapat hidup di bumi ini. Analoginya adalah seperti orang tua yang menginginkan untuk memiliki anak, maka ketika si anak lahir maka sang orang tua wajib memberikan makanan dan minuman serta mengurusi si anak sampai si anak dewasa dan si anak bisa mengurusi dirinya sendiri.
Saya rasa orang tua manapun, muslim ataupun ateis, mukmin ataupun kafir, akan memenuhi kubutuhan dasar anak-anaknya seperti makanan minuman dan lain sebagainya, dan ini bukanlah suatu hal yang mengherankan. Ini bukanlah suatu prestasi yang harus dibanggakan melainkan memang sudah menjadi suatu keharusan. Jika orang tua tidak mau memenuhi kebutuhan dasar si anak yang masih kecil tersebut, maka sudah sepantasnya jika sang orang tua tersebut akan dicap sebagai orang tua yang tidak bertanggung jawab. Dengan demikian, imho, memang sudah sepantasnya jika Tuhan menyediakan oksigen dan segala hal dasar yang dibutuhkan manusia. Otherwise manusia akan mati, dan akan sia-sialah Tuhan menciptakan manusia.
Mungkin yang membedakan antara orang tua yang baik atau tidak bukanlah pemenuhan kebutuhan dasar seperti makanan dan minuman (atau kalau dalam kasus Tuhan, menyediakan oksigen untuk dihirup, air untuk diminum dan untuk bersuci, makanan untuk dimakan dlsb), melainkan hal-hal yang di luar itu, seperti misalnya keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak, bermain bersama anak, serta penyediaan waktu yang berkualitas (quality time) bagi si anak. Pertanyaannya sekarang, apakah Tuhan mengajar setiap manusia secara langsung (bukan pakai guru privat ya) dan menyediakan quality time untuk setiap manusia di seluruh muka bumi ini tanpa kecuali?

Kemudian lebih lanjut lagi, kenapa Tuhan menciptakan neraka jahannam, dan yang lebih penting lagi kenapa neraka jahannam tersebut dianggap sebagai salah satu bentuk nikmat Tuhan kepada manusia (QS 55:42-45)? Mengapa harus ada hukuman neraka yang abadi untuk kejahatan manusia yang dilakukan manusia hanya selama beberapa tahun saja di muka bumi? Bukankah hukuman neraka abadi tersebut terlalu berat, bahkan untuk orang kafir sekalipun? Mengutip perkataan Kain, hukuman ini lebih berat daripada yang dapat kutanggung (Kej 4: 13). Tidakkah lebih baik jika misalnya hukuman neraka yang pedih itu ditetapkan maksimal selama satu abad saja, misalnya, atau bisa jadi lebih singkat tergantung kadar kejahatan masing-masing individu? I still don't get it.

3. Tuhan sudah mengetahui sejak awal bahwa manusia adalah makhluk yang zhalim dan jahil, akan tetapi kenapa Tuhan tetap memberikan amanat kepada manusia yang jahil? (QS 33:72)
Analoginya kira-kira seperti ini, ada seorang anak remaja berusia 13 tahun yang merengek-rengek kepada orang tuanya untuk dibelikan sepeda motor. Sang orang tua tersebut tahu persis bahwa jika si anak tersebut dibelikan sepeda motor, maka si anak akan kebut2an di jalan yang pada gilirannya suatu saat nanti si anak akan mengalami celaka di jalan, cepat atau lambat. Tapi karena si anak terus merengek-rengek, sang orang tua akhirnya membelikan sepeda motor kepada si anak yang ceroboh tersebut, dan ternyata terbukti bahwa si anak pada akhirnya mengalami kecelakaan yang fatal. Dalam kasus ini, sebenarnya siapakah yang salah dan ceroboh, apakah si anak saja, atau keduanya? Saya rasa sang orang tua tidak bisa melemparkan kesalahan hanya kepada si anak semata-mata. Sang orang tua pun sebenarnya ikut bersalah karena ia membelikan sepeda motor kepada seorang anak yang belum cukup umur.

(Edited  1:)
Ada analogi berbeda yang dituliskan secara sangat bagus oleh Dan Brown dalam bukunya Angels and Demons. Dalam buku tsb, ada percakapakan antara seorang polisi yang bertanya kepada Camerlengo mengapa di dunia ini masih banyak kelaparan, perang, penyakit, dll. Camerlengo memberikan analogi kurang lebih seperti ini, jika anda memiliki seorang anak berusia 8 tahun, apakah anda akan mencintainya? "Ya, tentu saja", kata si polisi. Kemudian Camerlengo bertanya lebih lanjut, jika anak anda ingin bermain skateboard, apakah anda mengijinkannya? "Ya, tapi saya akan memintanya untuk berhati-hati". Camerlengo bertanya lagi, jika anak anda jatuh dan terluka, apakah anda akan melarangnya bermain skateboard untuk selamanya? Kata sang polisi, "Tidak, luka tsb akan membuatnya lebih berhati-hati jika bermain skateboard lagi kelak"
Walaupun analogi tsb bagus, namun ada perbedaan antara analogi saya dengan analogi Dan Brown. Pada analogi saya, si anak mengalami kecelakaan fatal (bisa tewas, bisa cacat seumur hidup). Sedangkan dalam analogi Dan Brown, si anak hanya mengalami luka ringan.)

Kemudian, kembali ke pertanyaan pertama, kenapa Tuhan menciptakan manusia jika sejak awal Dia sudah menetapkan bahwa Tuhan akan memasukkan manusia ke neraka jahannam? (QS 11:119, 32:13, 38:85). Kenapa secara populasi jumlah manusia yang menyembah the One True God jauh lebih sedikit kuantitasnya ketimbang orang-orang penyembah nabi utusan Tuhan, penyembah dewa-dewa, dan penyembah arwah leluhur? Tampaknya sejak awal Tuhan sudah tahu bahwa kebanyakan manusia yang diciptakan-Nya adalah orang-orang zhalim dan kafir, akan tetapi kenapa Tuhan tetap menciptakannya anyway? Dan kenapa Tuhan memberikan amanat kepada makhluk yang zhalim dan jahil?

Edited 1 Once Again:
Wamaa khalaqtul jinna wal insa illa liya'buduun (QS 51:56)
Saya sudah menghafal ayat ini sejak puluhan tahun yang lalu, atau tepatnya ketika saya masih SMA. Tapi saya baru memahami ayat ini baru-baru saja atau sekitar setahun yang lalu, ketika saya membaca bukunya Jeffrey Lang: Struggling to Surrender atau Berjuang untuk Berserah.
Dikisahkan bahwa Jeffrey Lang tadinya adalah seorang Katolik yang kemudian beralih menjadi seorang atheist. Dan ketika Jeffrey Lang menjadi Atheist itulah dia merasa hidupnya kosong. Puncak kekosongan hidupnya adalah justru ketika dia dinobatkan menjadi seorang Doctor (S3). Fast forward beberapa tahun, dia tertarik kepada Islam justru karena ada seorang imam yang menceritakan pengalaman spiritualnya ketika sang imam bersujud. Dengan kata lain, Jeffrey Lang tertarik kepada Islam karena di dalam sholat Islam ada adegan untuk bersujud yang merupakan puncak manifestasi dari beribadah kepada Allah.
Kalau saya meminjam piramida kebutuhan-nya Abraham Maslow, kebutuhan dasar manusia adalah makan, minum dst. Kemudian keamanan. Kemudian meningkat kepada keluarga. Kemudian kebutuhan kedua tertinggi adalah self esteem atau pencapaian. Nah, kalau saya hubungkan dengan kisah Jeffrey Lang di atas, ketika dia dinobatkan sebagai seorang doctor, pada hakikatnya dia sudah mencapai kebutuhan self esteem ini, tapi dia belum puas, karena dia belum memenuhi kebutuhan tertinggi sebagai seorang manusia. Apakah kebutuhan tertinggi dari seorang manusia, atau kalau dalam istilah Maslow, aktualisasi diri? Menurut Quran ayat 51:56 tsb, aktualisasi diri bagi seorang manusia adalah untuk mengabdi kepada Tuhan. Atau kalau dalam bahasa Leo Tolstoy, manusia dapat hidup tanpa kedua orang tuanya, tetapi manusia tidak dapat hidup tanpa Tuhan. Oleh karena itu, manusia sangat membutuhkan Tuhan, bukan sebaliknya. 
Oleh karena itulah walaupun Jeffrey Lang atau atheis manapun yang memperoleh gelar pendidikan tertinggi ataupun recognition/pengakuan tertinggi dari orang lain, tetap saja pada hakikatnya hidup/jiwa mereka kosong. Mereka yang atheis belum mewujudkan kebutuhan utama mereka atau aktualisasi diri mereka sebagai manusia, yaitu untuk menjadi hamba Tuhan. Ingatlah, bahwa puncak kebahagian bagi jiwa seorang manusia adalah ketika jiwa tsb dipanggil oleh Rabb-nya dalam keadaan ridha dan diridhoi.


(Edited 2:
Kemudian pertanyaan yang muncul di benak kepala saya, ketika Tuhan menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi, siapakah sebenarnya yang dimaksud? Apakah sebagian manusia saja ataukah seluruh manusia baik yang beriman kepada Allah maupun yang tidak beriman? Apakah Adam saja, ataukah seluruh keturunan Adam termasuk Kain? Apakah hanya individu tertentu saja seperti Nabi Daud, sebagian orang-orang beriman saja, ataukah termasuk orang-orang kafir? Sebenarnya siapakah yang berhak (atau wajib?) mengemban amanat ini, dan apa saja to do list yang harus dilakukan untuk bisa mengemban amanat ini dengan baik? Saya bisa membayangkan jika setiap individu mengklaim dirinya sendiri sebagai pengganti Tuhan di muka bumi, yang ada bukanlah keteraturan dan kedamaian melainkan kekacauan dan perang karena setiap orang akan merasa sebagai yang paling berhak untuk mengklaim kebenaran. Nampaknya, saya lebih condong bahwa Tuhan hanya memberikan amanah kepada segintir manusia saja sebagai pengganti-Nya di muka bumi ini, bukan kepada seluruh manusia. Tapi kemudian tetap akan muncul pertanyaan, siapa sajakah yang diberi amanah untuk menjadi wakil Tuhan di muka bumi? Apakah khalifah ini selalu ada di setiap masa, ataukah khalifah ini hanya muncul pada era-era tertentu saja? Apakah ada tanda-tandanya manusia yang ditunjuk sebagai khalifah di muka bumi?)

Sampai sekarang, ketika saya sedang galau dan batin saya sedang memberontak, saya masih berkutat dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas, karena saya pribadi belum menemukan jawaban yang memuaskan akal dan pikiran saya untuk pertanyaan di atas. I still haven't found the answers for that, and I doubt I ever will.

Akan tetapi, biar adil, saya juga akan menuliskan beberapa pertanyaan yang saya merasa bahwa mungkin saya sudah menemukan jawabannya.

1. Mengapa Tuhan tidak selalu mengabulkan doa manusia sementara hal yang diminta manusia tsb adalah hal yang sangat wajar dan tidak berlebihan?
Banyak orang yang terlilit hutang selama bertahun-tahun, dan selama bertahun-tahun pula dia berdoa kepada Tuhan agar hutangnya bisa lunas. Akan tetapi tetap saja hutang2nya tidak kunjung lunas. Padahal yang dia minta bukanlah kekayaan yang berlimpah ruah. Yang dia minta simply agar hutangnya lunas. Tapi kok kenapa ya Tuhan tidak mengabulkan doanya? Jika anda pernah terlilit hutang, mungkin anda tahu bagaimana susahnya untuk merasa berbahagia sementara utang anda menumpuk dan hidup anda terasa begitu berat. Atau bagaimana sulitnya untuk bersyukur kepada Tuhan sementara utang anda menggunung dan anda tidak tahu bagaimana cara melunasi utang anda.
Atau bagaimana dengan orang yang menderita suatu penyakit selama bertahun-tahun, selama bertahun-tahun dia berdoa kepada Tuhan agar penyakitnya diangkat, dan ternyata selama bertahun-tahun pula Tuhan tidak kunjung mengabulkan doanya?
Well, ada beberapa kemungkinan jawabannya:
a. Musibah yang seolah-olah menimpa kita tersebut sebenarnya merupakan suatu keuntungan bagi kita yang akan nikmati kelak, entah di dunia ini atau di akhirat nanti. Hayati kembali kisah Nabi Musa dan Khidr sebagaimana diceritakan dalam surah Al Kahfi.
b. Kita telah berdoa untuk sesuatu yang kita tidak ketahui hakikatnya. Renungkan kembali kisah Nabi Nuh di dalam surah Hud yang berdoa kepada Allah untuk menyelamatkan anak beliau dari banjir.
c. Kita hanya mengandalkan doa dan mukjizat, tanpa mau melakukan usaha atau ikhtiar. Ingat kembali surah Ar Ra'd ayat 11.

Dalam kasus saya, beberapa tahun yang lalu saya memiliki hutang di sana-sini dalam jumlah yang sangat besar bagi saya ketika itu, dan saya tidak tahu apakah mungkin saya bisa melunasi hutang-hutang saya. Saya berdoa kepada Tuhan agar hutang-hutang saya menjadi lunas. Well, sebenarnya lebih tepatnya saya mengharapkan adanya mukjizat yang membuat saya mendapatkan rejeki nomplok dalam jumlah besar sehingga saya bisa melunasi selutuh utang saya. Tapi ternyata rejeki nomplok tersebut tidak pernah datang. Saya tetap berhutang. Tapi syukurnya beberapa waktu kemudian salah satu pihak yang memberikan utang kepada saya (yaitu kakak saya sendiri) menyatakan bahwa saya tidak perlu membayar hutang kepada dia. Bagi saya ini merupakan sesuatu yang sedikit banyak meringankan beban pikiran saya. Selain itu, utang saya lainnya yaitu utang kartu kredit saya, dimana saya memiliki dua kartu kredit dengan level gold member, dan utang saya sudah mencapai limitnya (kurang lebih dua kali 27 juta). Ini jelas utang yang sangat besar bagi saya. Tapi ternyata lama-lama saya bisa mencicil kartu kredit saya dan sekarang saya sudah berhasil menurunkan limit kartu kredit saya dari 27 juta menjadi 5 juta saja.
Well, walaupun utang-utang saya tersebut tidak serta merta lunas dalam waktu sekejap sebagaimana yang saya harapkan, melainkan memakan proses waktu yang cukup lama sampai utang saya berkurang (kalau lunas sih belum), toh setidaknya hutang saya banyak berkurang secara signifikan sehingga kemudian utang tsb tidak lagi membebani pikiran saya (walaupun kemudian utang saya bertambah lagi karena kemudian saya meminjam uang lagi ke bank untuk membeli rumah, but that's another story).
Kasus saya yang lain adalah sakit wasir yang sudah saya derita sejak bertahun-tahun yang lalu sampai sekarang. Dan sudah bertahun-tahun juga saya berdoa kepada Tuhan (sampai sekarang) agar Tuhan menghilangkan sakit wasir yang saya derita. Well, sebenarnya lebih tepatnya saya mengharapkan mukjizat yang membuat wasir yang saya derita bisa menghilang secara tiba-tiba. Bagi yang pernah menderita sakit wasir tentu tahu bagaimana tidak nyamannya di sekitar selangkangan kita ketika wasir itu kambuh. Bagaimana mungkin saya bisa sholat dengan tenang jika pantat saya terasa nyeri? Sebenarnya saya mengharapkan adanya mukjizat dari Tuhan yang merupakan jawaban dari doa saya bahwa sakit wasir saya bisa hilang secara ajaib. Yah, mungkin saja saya tidak cukup layak untuk menerima mukjizat langsung dari Tuhan, atau mungkin juga that's not how it works. Mungkin sekali untuk menghilangkan sakit wasir tsb saya memang harus melakukan ikhtiar, yaitu saya harus dioperasi, sesuatu yang sebenarnya saya hindari karena saya sudah membayangkan betapa sakitnya dioperasi di daerah dubur, dan juga betapa malunya dan risihnya dioperasi di sekitar selangkangan. Dan yang jelas saya akan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.
Jadi, sebenarnya saya mengharapkan mukjizat agar sakit wasir tsb bisa hilang secara ajaib. Tapi kalau ternyata memang bukan begitu caranya, ya mau gimana lagi. Saya siap menerima jika memang suatu saat nanti saya harus dioperasi. I can live with that ... later.

2. Haruskah semua manusia bersyukur kepada Tuhan dalam segala keadaan?
Jawaban singkat saya: tidak harus. Walaupun setiap individu, baik kaya maupun miskin, tentunya memiliki sejumlah alasan untuk bersyukur kepada Tuhan, namun kalau dia merasa musibah yang sedang dihadapinya terasa sangat berat, ya dia tidak harus bersyukur. Bukankah dalam hadits Nabi dikatakan bahwa sikap seorang muslim itu ada dua macam, yaitu bersyukur ketika mendapat nikmat, dan bersabar ketika dia mendapat musibah. Nah, jadi ketika yang sedang dihadapinya adalah musibah, yang perlu dia lakukan pada saat itu adalah bersabar. Dia tidak perlu memaksakan diri untuk bersyukur jika memang dia sedang merasakan kesusahan.

3. Haruskah seorang anak bersyukur kepada kedua orang tuanya? Jika alasannya hanya semata-mata karena si anak telah dirawat oleh orang tuanya sejak dia kecil, bukankah memang itu sudah menjadi kewajiban orang tua untuk merawat dan mendidik anak-anaknya?
Jawaban saya, jika seorang anak memiliki orang tua yang normal, yaitu orang tua yang merawat dan mendidik anaknya dengan baik, maka jawabannya adalah ya, si anak harus bersyukur kepada orang tuanya. Memang benar bahwa sudah menjadi kewajiban orang tualah untuk merawat anaknya. Namun, setiap orang tua normal pasti akan memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya yang jauh melebihi standar minimal kebutuhan si anak. Misalkan, kebutuhan minimal seorang bayi adalah minum susu kalengan, maka seorang ibu yang normal akan dengan senang hati menyusui anaknya dari susunya sendiri. Demikian juga, seorang ibu yang normal akan menyediakan waktu 24/7 untuk anak bayinya. Hampir dalam semua kasus, sang ibu lebih memprioritaskan kenyamanan si bayi daripada kenyamanan sang ibu itu sendiri. Maka sudah sangat sepantasnya jika si anak wajib bersyukur kepada kedua orang tuanya, khususnya kepada ibunya.

4. Saya tidak pernah minta kepada Tuhan untuk diciptakan, dan saya juga tidak pernah meminta kepada Tuhan untuk dilahirkan ke dunia ini. Apakah Tuhan itu otoriter yang tidak mengindahkan keinginan makhluk-Nya?
Jawaban saya, sebenarnya Tuhan itu sangat demokratis yang sangat memperhatikan keinginan makhuk-Nya. Hal ini bisa dilihat di dalam surah Al A'raaf ayat 172. Di dalam ayat tsb digambarkan dialog antara Tuhan dengan "calon" manusia, apakah sang calon tersebut bersedia menjadikan Tuhan sebagai Rabb-nya? Dan ternyata sang calon tersebut bersedia untuk menjadikan Tuhan sebagai Rabb-nya. Artinya sang calon tsb sudah siap menerima segala risiko yang mungkin akan dia hadapi. Seandainya sang calon memang tidak ingin dilahirkan ke muka bumi ini, maka sebenarnya dia cukup menolak pertanyaan Tuhan tsb, maka dia tidak akan pernah dilahirkan ke dunia ini dengan selamat, atau dia akan mati di dalam kandungan. Wa Allahu a'lam.

Comments

Popular posts from this blog

Bekal untuk Berdakwah

Apakah masih relevan?

Ayat Yang Salah Tempat?