Kisah Manusia (Adam): sebuah hipotesis

Berikut ini merupakan interpretasi saya terhadap Al Quran dan juga Alkitab (serta hadits) mengenai kisah pengangkatan manusia (Adam) sebagai khalifah di muka bumi secara kronologis. Tentu saja interpretasi saya bisa salah, bisa juga benar, Allah-lah yang lebih tahu. Namun saya berharap apa yang saya tuliskan berikut ini tidak melenceng jauh dari kebenaran.
Apa yang terjadi sebenarnya?

Berawal dari kehendak Tuhan untuk menjadikan manusia sebagai khalifah (pengganti) Tuhan di muka bumi. Manusia ini diciptakan-Nya sesuai dengan citra-Nya dan sebagai representasi Tuhan di muka bumi. Apa maksudnya? Manusia akan berkuasa atas segala ikan di laut, burung di udara, dan segala jenis binatang di bumi (Kitab Kejadian 1:26, 28).

Setelah Tuhan menciptakan Adam, kemudian Tuhan mengajarkan kepada Adam segala sesuatu yang harus diketahuinya.
Kelebihan utama manusia dibandingkan para Malaikat, imho, bukanlah karena manusia (Adam) lebih pintar daripada Malaikat, namun kelebihannya adalah karena manusia memiliki free will, manusia bisa menciptakan sesuatu yang baru, dan manusia bisa melakukan suatu pekerjaan baru yang belum ada SOP (Standar Operasional Prosedur)-nya. Berbeda dengan para malaikat yang tidak bisa melakukan semua itu. Malaikat hanya mengetahui hal-hal yang sudah diajarkan Tuhan kepada mereka, namun tidak mengetahui hal-hal yang tidak diajarkan Tuhan kepada mereka. Sementara manusia bisa mempelajari sendiri hal-hal yang tidak diajarkan Tuhan kepada mereka. Ilustrasinya kira-kira seperti ini: misalkan di bumi ini telah terdapat seribu jenis spesies binatang, dan para Malaikat telah diajari Tuhan mengenai nama-nama dari seribu binatang tersebut, maka hanya sebatas itulah pengetahuan Malaikat. Jika misalnya terdapat sejumlah spesies binatang baru yang berbeda dari keseribu binatang tsb dan Tuhan belum mengajarkan kepada Malaikat nama-nama dari spesies baru tersebut, maka Malaikat tidak akan pernah tahu nama dari spesies baru tersebut karena Malaikat tidak berkuasa untuk menciptakan sendiri nama dari spesies baru tersebut. Berbeda dengan manusia yang bisa memberikan nama baru kepada sesuatu yang baru dilihatnya. Oleh karena itu, ketika Tuhan bertanya kepada Malaikat, "Sebutkanlah kepada-Ku nama dari benda-benda ini" dan Malaikat tidak bisa menjawab, sedangkan Adam bisa menjawab, hal tersebut menurut pendapat saya bukanlah karena para Malaikat tidak diberitahu nama dari benda-benda tsb sedangkan Adam sudah diberi tahu nama dari benda-benda tersebut. Kalau demikian, maka itu kurang fair. Menurut saya, ketika itu, para Malaikat dan Adam sama-sama tidak diberitahu sebelumnya mengenai nama dari benda-benda tersebut. Atau dengan kata lain, ketika Tuhan bertanya kepada Malaikat (dan juga Adam) akan nama dari benda-benda tsb, benda tsb adalah benda baru yang sama sekali belum pernah ada sebelumnya. Nah, dalam kasus ini, para Malaikat tidak bisa menyebutkan namanya, sedangkan Adam bisa. Kemungkinan, benda yang ditanyakan oleh Tuhan tsb adalah sejumlah spesies baru dari berbagai jenis binatang (rujukan Kejadian 2:19-20). Itulah kelebihan Adam dibandingkan Malaikat, sehingga Tuhan menyuruh para Malaikat untuk bersujud kepada Adam.

Namun kemudian karena Adam digelincirkan oleh setan, maka Adam memakan buah terlarang yang menyebabkannya berbuat zhalim kepada dirinya sendiri. Thank goodness, Tuhan mengampuni kesalahan Adam, bahkan Tuhan menawarkan amanat kepada Adam (walaupun Adam telah berbuat zhalim). Karena Tuhan itu maha adil dan bijaksana, maka sebelum Tuhan memberikan amanat kepada manusia (Adam), Tuhan memberikan pilihan lebih dahulu kepada manusia apakah manusia mau menerima amanat dari Tuhan tsb atau tidak? Lalu manusia (Adam) bertanya, apakah konsekuensinya jika ia menerima amanat tersebut? Tuhan menjawab, bahwa jika Adam taat (mampu mengemban amanat) maka ia akan diberi pahala dan diampuni dosanya, namun jika ia berbuat buruk/durhaka (khianat terhadap amanat tsb) maka ia akan disiksa. Ternyata manusia (Adam) bersedia menerima amanat tersebut (QS 33:72). Kemungkinan amanat tersebut berupa enam perintah Tuhan kepada Adam (six laws of Adam) yaitu jangan menyembah berhala, jangan menghujat nama Tuhan, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan berzina, serta menegakkan keadilan. Enam perintah ini hampir sama dengan the Seven Noahide Laws minus jangan memakan darah.

Kemudian ternyata Tuhan tidak hanya berlaku adil dan bijaksana kepada Adam saja (dengan memberikan pilihan kepada manusia apakah ia mau menerima amanat dari Tuhan atau tidak sebagaimana tertulis dalam QS 33:72), namun Tuhan juga berlaku adil kepada keturunan Adam dengan memberikan pilihan apakah keturunan Adam mau menerima Tuhan sebagai Rabb kita atau tidak (QS 7:172). Dan sebagaimana tercatat dalam ayat 172 tsb, ternyata setiap manusia yang lahir ke muka bumi ini bersedia mengakui Tuhan sebagai Rabb-nya. (Jika seandainya ada calon manusia yang tidak bersedia mengakui Tuhan sebagai Rabb-nya, maka kemungkinan calon manusia tsb tidak akan pernah lahir ke dunia ini dengan selamat, wa Allahu a'lam). Dengan bersedianya kita mengakui Tuhan sebagai Rabb kita, maka dengan sendirinya kita pun terikat peraturan Tuhan yang sebelumnya telah ditetapkan, yaitu the six laws of Adam dan/atau the seven laws of Noah.

Kesimpulan: kita-kita ini sebenarnya sudah terikat perjanjian dengan Tuhan bahwa kita mengakui Tuhan sebagai Rabb kita dan kita telah menyatakan sanggup mengemban amanat dari Tuhan. Masalahnya, kita tidak ingat sama sekali dengan perjanjian tsb. Sekarang yang penting adalah bagaimana kita senantiasa memegang teguh perjanjian kita dengan Tuhan dan menegakkan tujuh hukum utama yang telah ditetapkan oleh Tuhan bagi seluruh keturunan Adam.


Comments

Popular posts from this blog

Bekal untuk Berdakwah

Apakah masih relevan?

Ayat Yang Salah Tempat?