First Thing First dalam Memahami Islam

Sekitar tahun 2002, Ulil Abshar Abdalla menerbitkan tulisannya yang berjudul Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam, yang dimuat pada situs islamlib (islam liberal). Dalam artikel tersebut, antara lain Ulil menyatakan bahwa agama Islam itu bukan sebuah patung indah yang sudah selesai pada abad ke-7 lalu, namun Islam adalah sebuah proses berkesinambungan dan panjang yang masih berlangsung. Sehingga dalam memahami dan menafsirkan (ulang) Islam, kita tidak harus mengekor kepada pendapat ulama-ulama terdahulu yang sudah meninggal berabad-abad yang lalu. 

Nah, kalau kita memang mau menafsirkan ulang pemahaman Islam, atau menyegarkan kembali pemahaman Islam, menurut saya jalan terbaik adalah mencoba memahami ayat-ayat Al Quran sebagaimana ia pertama kali diturunkan, yaitu berdasarkan urutan diturunkannya Al Quran, atau secara chronological order. Ayat yang pertama kali turun itulah yang harus kita pahami terlebih dahulu, setelah itu baru kita mempelajari surat kedua, ketiga, dan seterusnya.

Secara umum, hampir semua ulama sepakat (termasuk sarjana barat, Noldeke) bahwa ayat yang pertama kali diturunkan adalah Iqra. Sedangkan untuk ayat kedua dan ketiga, terdapat perbedaan pendapat mengenai urut-urutannya. Namun, hampir semua ulama dan sarjana sepakat bahwa beberapa surat yang termasuk paling awal diturunkan antara lain adalah Al Alaq, Al Qalam, Al Muddatsir, Al Lahab, Adh Dhuha, Alam Nasyrah, Al Kautsar, At Takatsur dan Al Maa'un.

Pelajaran apa yang bisa kita petik dari informasi ini?

Pertama, ayat Al Quran yang diturunkan pertama kali adalah Iqra, artinya kita harus banyak membaca ilmu pengetahuan dari kitab suci, buku-buku, dan lain sebagainya.

Kedua, dalam surat Al Alaq tersebut, hal penting yang diajarkan adalah mengenai Tauhid Rububiyah. Bahkan tauhid rububiyah dalam arti sempit, yaitu bahwa Allah sebagai pencipta alam semesta, dan Allah sebagai pencipta manusia. Di sini kita belum diajarkan mengenai tauhid uluhiyah. Untuk level pemula, kita memang seharusnya belajar yang paling dasar dulu, yaitu mengenai tauhid rububiyah. Sedangkan tauhid uluhiyah itu nanti, kalau level kita sudah mulai meningkat.

Ketiga, kita diajarkan tentang pentingnya akhlaq (Al Qalam 3). Sebagaimana perkataan ahli fikih, adab mendahului ilmu. 

Keempat, kita diajarkan tentang pentingnya berdakwah (Al Muddatstsir)

Kelima, kita diajarkan mengenai pokok ajaran agama. Ternyata pokok ajaran agama bukanlah sesuatu yang muluk-muluk, melainkan sesuatu yang sederhana, yakni memberi makan anak yatim dan orang miskin. (Adh Dhuha, Al Maa'un, Al Lail. Kemudian juga Al Balad, al Fajr, dlsb). Hal ini juga senada dengan apa yang tertulis dalam surat Yakobus (Epistle of James) 1:27.

Keenam, kita diajarkan untuk tidak terlalu mengejar kekayaan, atau jangan menumpuk kekayaan (Al Lahab 2, At Takastur, Al Humazah 2-3). Hal ini sejalan dengan apa yang diajarkan oleh Injil, khususnya Injil Lukas (6:24, 12:13-34) dan juga Yakobus 5:1-5.

Ketujuh, kita juga diajarkan untuk bersyukur dan memuji Tuhan (Adh Dhuha 11, Alam Nasyrah 7-8, Al Kautsar, Al Muddastsir 3)

Jika kita melihat kembali surat-surat awal yang diturunkan, kita bisa melihat, bahwa dalam tahap awal pengajaran Islam kepada manusia, belum ada aturan mengenai minuman (dan makanan) yang diharamkan, batas-batas aurat, puasa, haji, apalagi berperang kepada orang kafir. Oleh karena itu, cukup ironis jika ketika seseorang mulai mempelajari Islam (dalam suatu tarbiyah misalnya), materi yang diajarkan pertama kali adalah ghazwul fikri, al wala wal bara, celana kutung, cadar, dan sebagainya. Seharusnya materi awal yang diajarkan adalah yang dasar-dasar dulu seperti pentingnya menuntut ilmu (membaca), tauhid rububiyah, akhlaqul karimah, harakah islamiyah, bersyukur, menyantuni anak yatim dan memberi makan orang miskin, serta tidak menumpuk kekayaan duniawi.

Berhubung saya tidak tahu pasti urut-urutan turunnya surah Al Quran yang benar, maka saya tidak tahu ajaran apa yang seharusnya diprioritaskan berikutnya. Namun saya rasa tujuh pelajaran di atas itulah beberapa hal yang paling pokok dalam agama yang wajib diketahui oleh setiap muslim. Kalau boleh menduga-duga, saya menduga bahwa setelah tujuh hal pokok di atas, hal berikutnya yang perlu dijalani oleh seorang muslim adalah tauhid ubudiyah, tauhid uluhiyah, dan shalat.

Konon katanya, Ali bin Abi Thalib menyusun Al Quran sesuai dengan urutan turunnya surat/ayat. Jika demikian, maka mushaf Ali adalah mushaf terbaik bagi kaum muslim dalam memahami kembali pemahaman Islam. Mudah-mudahan saja kelak jika seandainya Imam Mahdi muncul, maka Imam Mahdi membawa mushaf Ali, semoga.


Comments

Popular posts from this blog

Bekal untuk Berdakwah

Apakah masih relevan?

Ayat Yang Salah Tempat?