Mengapa aku meninggalkan aliran mainstream

Sebenarnya keputusanku untuk meninggalkan aliran mainstream dan mencari-cari Islam "alternatif" bukanlah keputusan mendadak, melainkan sudah kupikirkan dan kurenungkan selama bertahun-tahun lamanya. Ada beberapa hal yang membuatku kurang merasa nyaman dengan golongan mainstream, yang membuat pikiranku merasa terganggu karena aku tidak bisa mencerna dan memahami beberapa ajaran mainstream. Beberapa hal yang mengganggu pikiranku tersebut antara lain:

1. Percaya kepada takdir yang memaksa, bahwa Allah sudah menakdirkan seseorang akan celaka atau bahagia bahkan sebelum yang bersangkutan lahir ke muka bumi ini. Konsep predestinasi ini menurut saya tidak selaras dengan keadilan Tuhan. Walaupun saya sudah pernah membaca penjelasan mengenai konsep takdir dari golongan mainstream, namun saya tidak melihat adanya perbedaan pandangan mengenai takdir versi golongan mainstream ini dengan versi aliran Jabariyyah. Kalau pandangan Jabariyyah mengenai konsep predestinasi sudah diketahui khalayak ramai sebagai pandangan yang sesat. Tetapi ternyata penjelasan golongan mainstream (misalnya dari Asy'ari) terhadap takdir atau predestinasi sepertinya tidak jauh berbeda dengan penjelasan aliran Jabariyyah. Mengutip perkataan Karen Armstrong, predestinasi (takdir) dan keadilan Tuhan merupakan dua hal yang sangat sulit untuk dikompromikan. Konsep takdir atau predestinasi inilah hal yang pertama kali mengganggu pikiran saya ketika saya masih menganut aliran mainstream.

2. Golongan mainstream merasa sebagai satu-satunya golongan yang akan selamat serta menafikan keselamatan bagi golongan lain. Konsep seperti ini bagi saya juga tidak cocok dengan konsep keadilan Tuhan. Bagaimana mungkin kita bisa mengatakan bahwa Tuhan itu adil sementara Dia hanya menganugerahkan keselamatan kepada satu golongan tertentu saja, dan bukan kepada golongan lainnya. Belasan tahun yang lalu saya sering berandai-andai jika seandainya saya dilahirkan dari orang tua yang bukan muslim, apakah saya pada akhirnya akan bisa menemukan Islam dan convert menjadi muslim? Saya sendiri tidak yakin bahwa saya bisa menemukan Islam. Misalnya seandainya saya dilahirkan sebagai seorang Filipina yang merupakan penganut Katolik yang taat, kemungkinan besar sampai dewasa pun saya akan tetap menjadi seorang Katolik. Hanya saja secara kebetulan saya beruntung bisa dilahirkan sebagai seorang muslim karena orang tua saya muslim. Tapi bagaimana dengan nasib miliaran orang lainnya yang tidak dilahirkan sebagai seorang muslim? Dimana letak keadilan Tuhan dalam hal ini jika memberikan keselamatan hanya untuk satu golongan saja?
Dan yang lebih penting, pandangan mainstream bahwa keselamatan hanya bagi satu golongan saja -yaitu golongan mainstream Islam- jelas-jelas bertentangan dengan beberapa ayat Al Quran seperti QS 2:62, 5:69, 21:92-93, 23:52-53. Ayat-ayat tsb jelas menyatakan bahwa umat Nabi Muhammad pada hakikatnya sama saja dengan umat Nabi-nabi terdahulu seperti Nabi Nuh, Nabi Musa, dan Nabi Isa. Artinya, keselamatan bukan hanya hak monopoli umat Nabi Muhammad namun juga terbuka bagi umat Nabi lain, dengan syarat dan ketentuan berlaku. Lalu apakah artinya saya mengingkari QS 3:19 dan QS 3:85? Sama sekali tidak. Saya melihat bahwa arti kata din Islam dalam QS 3:19 dan 3:85 tsb bukanlah syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad, melainkan merupakan the way of life atau sikap tunduk patuh dan berserah diri yang dijalankan oleh Nabi Ibrahim. Muhammad bukanlah pencipta Islam melainkan hanya mengikuti millah Ibrahim. Dengan demikian tidak ada pertentangan antara QS 2:62 dan QS 3:19 karena yang disebutkan dalam kedua ayat tsb merupakan dua hal yang berbeda, dimana yang pertama adalah mengenai umat yang akan selamat kelak, sedangkan yang kedua merupakan din Islam yang sudah ada sejak dahulu kala atau setidaknya sudah ada sejak zaman Ibrahim. Saya berkeyakinan bahwa QS 2:62 dan 5:69 merupakan ayat yang berlaku umum (karena salah satu ciri dari ayat umum adalah adanya kata alladzii), dengan demikian ayat tsb berlaku sepanjang masa, dan ayat tsb tidak dihapus oleh ayat lainnya.

3. Golongan mainstream menyembah Nabi Muhammad.
Ah ngaco luh, mana ada golongan mainsream yang menyembah Nabi Muhammad? Mungkin inilah yang akan dikatakan oleh golongan mainstream.

Saya menuliskan ini karena beberapa alasan:
a. Golongan mainstream memasukkan bersyahadat kepada Nabi Muhammad sebagai rasul sebagai syarat mutlak dari Kalimat Syahadat. Dulu, ketika masih kecil, saya membaca-baca buku kisah 25 Nabi dan Rasul, dimana buku tsb menyatakan bahwa di setiap masa seorang Nabi dan/atau Rasul, maka selalu terdapat dua kalimat syahadat yang wajib dinyatakan oleh para pengikut Nabi/Rasul tsb. Misalnya, di zaman Nabi Nuh, maka pengikutnya mengucapkan Laa ilaha illa Allah, Nuh Rasulullah, dst. Namun seiring berjalannya waktu ketika saya membaca kitab agama lain seperti Taurat, Injil, dan kitab Nabi-Nabi, saya tidak pernah melihat adanya dua kalimat syahadat seperti ini. Artinya, para pengikut Nabi sebelum Muhammad tidak pernah mengucapan syahadat seperti Nuh Rasulullah, Hud Rasulullah, Musa Rasulullah, dsb. Bahkan kalau saya lihat di dalam Al Quran sendiri, saya melihat hanya ada satu kalimat syahadat saja, yaitu sebagaimana tertulis di dalam QS 3:18, bahwasanya Allah bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Dia. Demikian juga kesaksian para malaikat dan orang-orang berilmu, bahwa tidak ada tuhan selain Dia, yang menegakkan keadilan. Dari ayat QS 3:18 ini saya menangkap bahwa kalimat syahadat yang wajib diyakini oleh seorang muslim adalah mengakui bahwasanya Allah adalah satu-satunya Tuhan kita (monotheis) sekaligus kita meyakini bahwa Tuhan itu Maha Adil. Lalu kalau ada pertanyaan, emangnya Muhammad bukan Rasulullah? Jangan salah faham, Muhammad itu adalah Rasulullah, namun saya tidak melihat ada ayat Al Quran yang menyuruh kita untuk bersaksi bahwa Muhammad itu Rasulullah. Yang bersaksi bahwa Muhammad itu Rasulullah, justru adalah orang munafik (QS 63:1). Bagi saya, status Muhammad sebagai Rasulullah sama saja dengan Nuh, Musa, Isa dll yang juga sama-sama Rasulullah. Bukankah kita tidak pernah menyatakan kesaksian bahwa nabi-nabi terdahulu tsb adalah Rasulullah walaupun kita beriman kepada mereka. Kenapa kita harus membedakan Muhammad dengan nabi-nabi sebelumnya sementara di dalam Al Quran sendiri ada tertulis, laa nufarriqu baina ahadim min rusulih, kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara rasul-rasul-Nya.
b. Golongan mainstream "menyembah" Nabi Muhammad di dalam sebagian masjid.
Karena mainstream beranggapan bahwa kalimat syahadat itu ada dua, maka tidak jarang kita temukan bahwa golongan mainstream seringkali mensejajarkan Muhammad dengan Allah, baik di dalam masjid maupun pada sebagian rumah aliran mainstream. Saya sering melihat pada sebagian masjid, dimana ada nama Allah pada sisi sebelah kanan dinding masjid, sedangkan nama Muhammad pada sisi sebelah kiri, yang letaknya sejajar dengan nama Allah. Siapapun yang melihat tulisan kedua nama ini saya rasa akan merasakan bahwa secara tidak sadar golongan mainstream telah mensejajarkan nama Muhammad dengan nama Allah. Bukan hanya itu, ketika mainstream sedang shlat berjamaah, maka jamaah yang ada di sisi sebelah kiri secara literal bersujud kepada Muhammad, sesuatu yang sangat saya hindari.
c. Golongan mainstream shalat kepada Muhammad.
Bagi saya, shalat itu seharusnya ditujukan hanya kepada Allah saja, bukan kepada yang lain selain Allah. Misalnya ketika kita membaca ayat kelima dari surah Al Fatihah, Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in, maka penggalan kata ka (Engkau) pada ayat tsb harusnya ditujukan kepada Allah semata-mata. Demikian juga penggalan kata ka yang lain semestinya hanya ditujukan kepada Allah (misalnya subhanakallahumma, Rabbana walakal hamd, dll). Namun ketika membaca shalawat dalam shalat, golongan mainstream ternyata shalat kepada Nabi Muhammad, yaitu ketika mereka mengucapkan assalamu'alaika ayyuhannabiyyu wa rahmatullahi wa barakatuh. Ka di sini jelas ditujukan kepada Nabi Muhammad. Jadi dalam hal ini golongan mainstream ternyata sholatnya ditujukan kepada Nabi Muhammad. bukan hanya kepada Allah semata. Apa iya, Nabi Muhammad bisa mendengar shalat seluruh umatnya yang berjumlah miliaran orang? Emangnya Nabi Muhammad itu maha mendengar dan maha mengetahui? Imho, ucapan assalamu'alika ayyuhannabiyyu tsb hanya cocok diucapkan ketika kita sedang berziarah ke makam Nabi, bukan di tempat lain.

4. Golongan mainstream hanya percaya kepada Al Quran saja tetapi mengingkari kitab-kitab sebelum Al Quran. Memang benar bahwa secara lisan golongan mainstream menyatakan percaya kepada Taurat, Injil, Zabur dll, tapi pada kenyataannya itu hanya ucapan di bibir saja. Faktanya, golongan mainstream menolak untuk percaya kepada Taurat dan Injil yang beredar pada masa kini dengan alasan bahwa mereka yakin seyakin-yakinnya bahwa kitab tsb sudah diubah. Saya tidak menampik bahwa kitab Taurat yang ada pada masa kini bukanlah kitab "asli" yang dibawa oleh Nabi Musa, dan kitab Injil Perjanjian Baru yang ada saat ini bukanlah murni kata-kata Yesus Al Masih. Namun, apakah itu berarti kitab-kitab tsb kehilangan esensinya? Saya yakin tidak. Saya percaya bahwa secara umum kitab Taurat dan Injil yang ada pada masa kini masih mengandung kebenaran yang sangat sayang untuk dilewatkan oleh seorang muslim. Muhammad Abduh seorang ulama Mesir yang terkenal pernah berkeinginan agar kaum muslim membaca Taurat dan Alkitab.* Dan saya sebagai seorang muslim yang banyak membaca Taurat dan Injil, merasakan bahwa saya mendapatkan manfaat yang besar dari membaca Alkitab. Paling tidak pengetahuan saya banyak bertambah.
Sangat disayangkan jika golongan mainstream monolak membaca Alkitab dengan dalih bahwa Alkitab telah diubah. Tahukah anda, bahwa pada tahun 1947 telah ditemukan sejumlah gulungan naskah Laut Mati (Dead Sea Scrolls) yang merupakan sebagian dari manuskrip Alkitab Perjanjian Lama yang diperkirakan telah berusia 2000 tahun lebih atau beberapa tahun sebelum lahirnya Yesus Kristus, dan ternyata manuskrip DSS tsb tidak banyak berbeda dengan naskah Alkitab Perjanjian Lama di masa kini? Artinya kalau pun memang ada perubahan Alkitab, maka pengubahan tsb telah dilakukan sebelum masa Yesus Kristus. Tapi nyatanya di dalam Injil Yesus Kristus sama sekali tidak pernah mengkritik Alkitab atau menyatakan bahwa Alkitab itu palsu. Bahkan sebaliknya Yesus Kristus membenarkan Alkitab (khususnya Taurat) dan beliau sering kali mengutip darinya. Demikian juga di masa Nabi Muhammad, dalam ayat QS 2:89, 91 misalnya dinyatakan bahwa Al Quran membenarkan apa yang ada pada mereka (Ahli Kitab pada masa Nabi), which means kitab Tanakh yang ada pada orang-orang Yahudi Madinah, mengindikasikan bahwa walaupun pengubahan Alkitab telah terjadi namun toh Al Quran tetap membenarkan Alkitab yang telah diubah tsb.
Golongan mainstream menganggap bahwa beriman kepada kitab-kitab sebelum Al Quran adalah sama saja dengan beriman kepada Yang Ghaib (QS 2:3) karena mereka menganggap bahwa kitab-kitab sebelum Al Quran tsb sudah raib entah kemana. Sedangkan saya menganggap bahwa beriman kepada kitab-kitab sebelum Al Quran bukanlah beriman kepada sesuatu yang ghaib melainkan beriman kepada sesuatu yang memang ada wujudnya, atau paling tidak beriman kepada sesuatu yang masih kelihatan atsar atau jejak peninggalan atau masih kelihatan bekas-bekasnya (QS 46:4). Dalilnya adalah karena jika di ayat QS 2:3 disebutkan tentang kriteria utama seorang beriman adalah beriman kepada yang ghaib (yaitu Allah, para malaikat, nabi/rasul, dan Hari Akhir), maka beriman kepada Al Quran dan kepada kitab sebelum Al Quran disebutkan pada ayat selanjutnya yaitu di ayat QS 2:4. Hal ini mengindikasikan bahwa beriman kepada Al Quran dan kitab-kitab sebelum Al Quran bukanlah termasuk beriman kepada sesuatu yang ghaib melainkan beriman kepada sesuatu yang ada wujudnya.
(NB: Beriman kepada Nabi/Rasul bisa digolongkan sebagai beriman kepada yang ghaib karena hampir seluruh muslim tidak pernah melihat Nabi Muhammad, apalagi nabi-nabi sebelum Muhammad.)
Kewajiban untuk beriman kepada kitab sebelum Quran dipertegas lagi antara lain di surah QS 4:136, 2:136, dan 3:84
Tentunya saya lebih percaya kepada ayat yang jelas dari Al Quran ketimbang kebiasaan orang-orang dari golongan mainstream.

5. Golongan mainstream terkadang taklid buta kepada ulama mereka.
Tidak jarang aliran mainstream menelan bulat-bulat perkataan dari ulama mereka ketimbang mencoba mencerna lebih dahulu dengan akal. Dan ketika ada orang lain mencoba mencerna ayat Kitab Suci dengan akal mereka, maka orang lain ini dituduh sebagai ahli bid'ah, pemuja akal, atau mengikuti hawa nafsu belaka. Padahal sering kali orang yang menggunakan akal ini memang berusaha memahami ayat Al Quran dengan akal mereka, sama sekali tidak melibatkan hawa nafsu. Saya rasa sangat berbeda antara orang yang berusaha memahami Al Quran dengan akal dengan orang yang menggunakan Al Quran untuk memenuhi hawa nafsunya. Saya ambil contoh ayat An Nisa 24, wanita yang kamu nikmati maka berikanlah mas kawinnya (QS 4:24), kalau saya menggunakan hawa nafsu maka saya akan melakukan nikah mut'ah (kawin kontrak) dan menggunakan ayat ini sebagai dalilnya. Toh dalam tafsir Thabari dan tafsir ibnu Katsir pun memang terdapat ulama yang menganggap bahwa ayat ini merupakan dalil halalnya nikah mut'ah. Namun, jika saya menggunakan akal maka saya akan mengatakan bahwa walaupun mungkin saja ayat tsb memang berbicara tentang nikah mut'ah, namun sepertinya ayat tsb sudah tidak cocok lagi untuk diterapkan pada masa kini. Atau dengan kata lain, orang yang menggunakan akal sebenarnya adalah orang yang berusaha mencari kebenaran, sedangkan orang yang mengikuti hawa nafsu adalah orang yang mencari pembenaran.

6. Golongan mainstream benci kepada orang Yahudi tanpa alasan yang kuat.
Karena kebanyakan orang beraliran mainstream hanya taklid kepada ulama atau orang-orang segolongan disekitarnya maka tidak jarang jika mereka membenci umat Yahudi tanpa sebab yang bisa dibenarkan. Benar bahwa di dalam Al Quran terdapat sejumlah kecaman bagi bani Israil. Namun itu bukanlah hal baru. Di dalam Alkitab pun sebenarnya sangat banyak kecaman untuk bani Israel. Namun toh demikian, tetap saja pada akhirnya umat Israel merupakan umat pilihan Tuhan, dan di akhir zaman nanti umat Israel akan memiliki peranan penting sebagai bangsa yang terpilih. Maka saya tidak punya alasan untuk membenci bangsa Israel secara khusus. Atau sebagaimana dikatakan oleh Bileam dalam Kitab Bilangan 23, bagaimana mungkin aku membenci apa yang tidak dibenci Allah, dan bagaimana mungkin aku mengutuk apa yang tidak dikutuk oleh Allah?
Sebaliknya, saya merasa bahwa bani Israel adalah umat pilihan Tuhan, baik di masa lalu maupun di akhir zaman nanti. wa Allahu a'lam.

Itulah beberapa alasan yang membuat saya meninggalkan (i'tizal, QS 18:16) aliran mainstream.

Referensi:
Muhammad Abduh stated: "I hope to see the two great religions, Islam and Christianity hand-in-hand, embracing each other. Then the Torah and the Bible and the Qur'an will become books supporting one another being read everywhere, and respected by every nation." He added that he was “looking forward to seeing Muslims read the Torah and the Bible.

Comments

Popular posts from this blog

Bekal untuk Berdakwah

Apakah masih relevan?

Ayat Yang Salah Tempat?