Berjuang untuk Beriman*
Bagi saya, rukun iman yang paling konkret namun justru paling sulit untuk dilaksanakan adalah Beriman kepada Kitab-kitab Allah. Saya mengatakan beriman kepada kitab-kitab Allah sebagai sesuatu yang konkret karena kitab-kitab tsb menurut saya memang nyata dan berwujud (termasuk kitab Taurat dan Injil yang dianggap oleh sebagian umat Islam sebagai kitab yang ghaib karena menurut mereka kitab Taurat dan Injil yang asli sudah hilang, sedangkan kitab Taurat dan Injil yang ada saat ini sudah tidak asli lagi karena sudah diubah2). Well, saya tidak sependapat dengan pendapat sebagian muslim tsb karena saya berkeyakinan bahwa kitab-kitab Taurat, Injil, dan kitab Nabi-Nabi yang beredar saat ini masih mengandung kebenaran dan dapat dijadikan sebagai pedoman.
Dalil saya adalah QS 2:2-4, dimana disebutkan "rukun iman", yaitu beriman kepada yang ghaib (Allah, Malaikat, Hari Akhir, dan Nabi/Rasul?) dan beriman kepada apa yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad dan apa yang diturunkan sebelumnya. Dari ayat tsb, saya memahami bahwa beriman kepada kitab-kitab Allah tidak termasuk perkara ghaib, karena sebagian besar kitab-kitab tsb masih bisa ditemukan jejaknya hingga hari ini, berbeda dengan beriman kepada Allah, Malaikat, dan Hari Akhir yang jelas-jelas ghaib. Bahkan beriman kepada kitab-kitab Allah lebih nyata daripada beriman kepada Nabi dan Rasul, karena tidak ada Nabi dan Rasul yang masih hidup hingga saat ini, sedangkan kita masih bisa melihat jejak-jejak (atsaarotim min ilmin) Kitab Allah sampai dengan hari ini.
Walaupun memang benar bahwa kitab-kitab sebelum Al Quran (khususnya Taurat dan Injil) sudah tidak 100% murni lagi, namun ia masih mengandung kebenaran. Buktinya Al Quran sendiri menyatakan bahwa Al Quran membenarkan (kitab) yang ada pada mereka orang-orang Yahudi (QS 2:89, 91, 101) yang maknanya bahwa kitab yang ada pada mereka tsb kemungkinan besar adalah kitab Tanakh yang ada pada orang-orang Yahudi Madinah yang hidup di masa Nabi Muhammad. Padahal, berdasarkan temuan pada gua-gua di sekitar Laut Mati (Dead Sea Scrolls) terbukti bahwa kitab-kitab Perjanjian Lama pada abad pertama Sebelum Masehi isinya tidak jauh berbeda dengan kitab-kitab Tanakh yang beredar saat ini (versi Masoretic Text); kalau tidak mau dibilang sama persis. Sehingga rasanya cukup aman jika kita mengatakan bahwa kitab Taurat yang dipegang oleh orang Yahudi Madinah pada masa Nabi Muhammad isinya tidak jauh berbeda dengan kitab Tanakh pada masa kini atau kitab Taurat pada masa Yesus.
Jika saya membaca berbagai catatan kaki pada terjemahan Al Quran berbahasa Indonesia, saya mendapatkan kesan bahwa para penerjemah/penafsir Quran menganggap bahwa isi pokok dari kitab-kitab sebelum Al Quran adalah nubuat mengenai kedatangan Nabi Muhammad. Padahal, kalau saya baca-baca Alkitab sekarang ini (maupun versi Dead Sea Scrolls yang berusia +/- 2.000 tahun), kalaupun saya mau mencocok-cocokkan nubuat untuk Nabi Muhammad, walaupun memang ada beberapa ayat tentang Nabi, namun jumlahnya tidak begitu banyak. Kalau saya baca Alkitab, ajaran utama Alkitab adalah tawhid atau keesaan Allah (Ulangan 6:4-6, Markus 12:29-30, dlsb). Adapun nubuat mengenai Nabi Muhammad bukanlah isi pokok dari kitab-kitab terdahulu.
Selain paling konkret, saya menganggap bahwa beriman kepada seluruh kitab Allah mulai dari apa yang diturunkan kepada Abraham sampai dengan kepada apa yang diturunkan kepada Yesus dan Muhammad, merupakan salah satu rukun iman yang paling penting, karena inilah yang membedakan antara orang beriman dengan orang tidak beriman (QS 2:136-137). Kitab-kitab yang wajib diimani oleh orang beriman, menurut saya antara lain kitab Jubilee dan the Testament of the Twelve Patriarchs (karena kedua kitab ini sejauh yang saya tahu merupakan kitab yang paling dekat kepada "apa yang diturunkan kepada Ishak, Yakub, dan Al Asbath"), kemudian kitab Taurat, Injil, kitab Nabi-Nabi (Nevi'im), Mazmur (Tehillim/Psalms), dan Ayub (Job). Saya berpikir, jika kita gagal dalam mengimani kitab-kitab tsb, misalnya kita percaya kepada Al Quran saja namun ingkar kepada Taurat, Yesaya, atau Injil misalnya, maka boleh jadi kita tergolong sebagai orang yang kafir, naudzubillah min dzalik.
Namun, beriman kepada kitab-kitab Allah ternyata tidak semudah yang diucapkan. Mulut kita dapat mengatakan bahwa kita beriman kepada Al Quran dan kitab-kitab sebelumnya (Aamanna billahi wamaa unzila ilaina wamaa unzila ilaa Ibrahima wa Ismaila wa Ishaqa wa Ya'quba wal Asbathi wamaa uutiya Musa wa Isa wamaa uutiyannabiyyuna mirrabbihim), namun, terkadang praktiknya hati kita tidak mudah mengimaninya. Kesulitan untuk mengimani ayat-ayat Kitab Suci terutama ketika ada ayat-ayat suatu kitab nampaknya bertentangan dengan ayat pada kitab yang lain, atau ayat dalam surat yang satu nampak kontradiksi dengan ayat pada surat yang lain. Saya tidak berbicara tentang detil suatu kisah, misalnya kisah Nabi Musa di dalam Taurat yang sedikit berbeda dengan di dalam Quran. Walaupun saya tahu ada detil cerita yang berbeda antara Taurat dengan Al Quran, namun saya pribadi tidak memusingkan hal tersebut dan bukan itu yang mengganggu pikiran saya. Akan tetapi saya membicarakan tentang perintah di dalam kitab yang satu yang nampak berseberangan dengan perintah di dalam kitab yang lain dan sangat sulit untuk mengkompromikannya. Bahkan, ada juga beberapa ayat "sulit" yang nampaknya tidak sesuai dengan common sense saya.
Ayat yang sukar dipahami bukan hanya di dalam Alkitab, namun juga ada di Al Quran. Dan sampai saat ini saya masih berjuang untuk bisa memahami ayat-ayat Kitab Suci, baik Quran maupun Alkitab. Beberapa contoh ayat yang sulit antara lain adalah ayat-ayat perang (QS 9:29 dan QS 9:123) serta ayat kasihilah musuhmu, berkatilah orang yang mengutuk kamu, berdoalah bagi orang yang menganiaya kamu di dalam Injil Matius dan Lukas.
Dalam menyikapi ayat-ayat yang sulit dalam Al Quran maupun Alkitab, sekarang saya berpedoman pada kata-kata (konon katanya) Imam Ali bin Abi Thalib yang tercatat dalam kitab Nahjul Balaghah. Untuk ayat-ayat perang dalam Quran, saya berpegang pada Khotbah 1 dalam Nahjul Balaghah:
"Di dalamnya (Quran) ada beberapa ayat yang pengetahuan tentangnya diwajibkan, dan yang lain-lainnya yang ketidaktahuan manusia tentangnya dibolehkan. la juga mengandung apa yang nampak sebagai wajib menurut Kitab tetapi nasakhnya disuguhkan oleh sunah Nabi atau apa yang nampak sebagai wajib menurut sunah Nabi tetapi Kitab membolehkan orang tidak mengikutinya. Atau ada yang wajib pada suatu waktu tertentu tetapi tidak sesudahnya. Larangan-larangannya juga berbeda. Ada yang berat, yang mengenainya ada ancaman api (neraka), dan yang lainnya ringan, yang untuk itu terdapat harapan keampunan. Ada pula yang dalam ukuran kecil dapat diterima (bagi Allah) tetapi dapat membesar (bila diteruskan)."
Nah, saya menduga bahwa ayat-ayat perang di dalam Quran termasuk ayat-ayat yang sudah tidak berlaku pada masa kini karena pada masa kini umat Islam tidak memiliki figur yang memiliki otoritas untuk menafsirkan sekaligus mengaplikasikan ayat-ayat perang. Hanya Imam Mahdi sajalah yang punya wewenang untuk menafsirkan ayat-ayat sulit termasuk ayat perang, sekaligus mengaplikasikannya.
Sedangkan untuk ayat-ayat sulit di dalam Alkitab jika memang tidak bisa dikompromikan, saya berpedoman kepada Khotbah 50 Nahjul Balaghah:
Campuran antara Hak dan Batil
Basis terjadinya fitnah adalah hawa nafsu yang diperturuti dan perintah yang ditambah-tambahkan (bid'ah). Hal itu bertentangan dengan Kitab Allah. Orang bekerjasama tentangnya sekalipun ia bertentangan dengan Agama Allah. Apabila kebatilan murni dan tak bercampur dengan yang hak, ia tak akan tersembunyi dari orang-orang yang mencarinya. Dan apabila yang hak murni dan tidak bercampur dengan yang batil, orang-orang yang menaruh kebencian kepadanya akan dibungkamkan. Namun, yang dilakukan ialah sesuatu diambil dari sini dan sesuatu diambil dari sana, dan keduanya bercampur. Pada tahap ini iblis menaklukkan teman-temannya, dan yang melepaskan diri hanyalah mereka yang sebelumnya telah diberi Allah kebajikan.
Apakah mungkin kitab Injil sekarang ini telah tercampur antara ayat-ayat yang haq dengan yang bathil sebagaimana diindikasikan oleh Imam Ali? Sangat mungkin, bahkan Alkitab sendiri sudah mengindikasikannya di dalam Matius 13:24-30.
Saya menduga bahwa kasihilah musuhmu kemungkinan merupakan salah satu contoh ayat yang tidak berasal dari Yesus karena ayat tsb bertentangan dengan beberapa ayat lain di dalam Alkitab seperti Ulangan 7:2, Yosua 11:11, Samuel 15:3, Mazmur 69:29, Mazmur 109:12, dlsb. Terus terang, saya pribadi jika saya dianiaya atau dizholimi oleh seseorang, alih-alih memberkati si zholim tsb saya pribadi lebih memilih untuk mengutip Psalm 69:29, 109:12, atau 137:9.
Jadi, mungkin saja kasihilah musuhmu merupakan ajaran dari setan yang sengaja disisipkan ke dalam kitab Injil. Walaupun ayat tsb sepintas nampak baik, namun ayat tsb justru tidak adil bagi orang-orang yang dianiaya atau orang yang dirampok. Sehingga otak saya sangat sulit mencerna bagaimana mungkin ajaran kasihilah musuhmu berasal dari Tuhan Yang Maha Adil, jika seandainya orang yang dianiaya malah harus nerimo dan memberkati orang yang menganiaya dan orang yang dirampok harus mengasihi perampok? Yakin nih bahwa kita benar-benar harus mengasihi musuh kita?? Musuh kita, menurut Injil dan juga menurut Al Quran, adalah iblis/setan. Masak iya kita harus mengasihi setan. You gotta be kidding me.
Dan boleh jadi kasihilah musuhmu bukanlah satu-satunya ayat yang disisipkan iblis ke dalam Injil? Bagaimana jika seandainya ada ayat lain yang disusupkan iblis ke dalam Injil, Matius 16:18 misalnya?
*judul tsb terinspirasi dari judul bukunya Jeffrey Lang, Berjuang Untuk Berserah.
Comments
Post a Comment