Beda Penafsiran: Awal Mula Perpecahan dalam Islam
Saat ini terdapat sekian jenis golongan/mazhab dalam Islam. Lebih tepatnya terdapat 8 mazhab dalam Islam yang diakui dalam Risalah Amman (Amman Message). Kedelapan mazhab tsb adalah sunni hanafi, sunni hambali, sunni maliki, sunni syafi'i, syiah ja'fari (12 imam), syiah zaydi, ibadi (neo-khawarij), dan zahiri.
Kalau dirunut dari sejarah, awal mula terjadinya perbedaan tersebut adalah karena perbedaan penafsiran. Salah satu contoh perbedaan itu adalah jawaban atas pertanyaan, apakah seorang muslim yang melakukan dosa besar itu tetap muslim atau kafir? Pada satu titik ekstrim, terdapat golongan khawarij yang menyatakan bahwa muslim yang melakukan dosa besar adalah kafir. Sedangkan pada satu titik ekstrim lainnya terdapat golongan murjiah yang menyatakan bahwa muslim yang melakukan dosa besar tetaplah muslim.
Yang menjadi masalah sepertinya adalah definisi dari dosa besar, apakah yang dimaksud dengan dosa besar? Disinilah mungkin letak perbedaan antara seorang khawarij dengan seorang murjiah. Bagi seorang khawarij, Ali bin Abi Thalib telah melakukan dosa besar karena beliau bersedia mengikuti tahkim, sementara bagi khawarij tahkim itu berarti telah keluar dari Islam karena bagi khawarij tidak ada hukum selain hukum Allah (Laa hukma illa lillah). Sedangkan sebagian besar muslim lainnya tidak menganggap Ali telah melakukan kesalahan ketika beliau bersedia mengikuti tahkim.
Di sisi lain, jika yang dimaksud dosa besar adalah syirik akbar, saya yakin bahwa tampaknya golongan murjiah pun akan sepakat bahwa seorang muslim yang melakukan syirik akbar, seperti misalnya menumbalkan anak perempuannya kepada jinn dan menyembah jinn, maka perbuatan itu telah membuat orang tsb keluar dari Islam.
Begitu juga perbedaan antara sunni dengan syiah, antara lain karena perbedaan penafsiran terhadap hadits ghadir khum. Syiah menganggap bahwa dalam hadits ghadir khum tsb, Rasulullah jelas-jelas menunjuk Ali sebagai pemimpin bagi kaum muslimin selepas beliau, sedangkan sunni tidak menganggapnya demikian.
Jadi di sini saya merasakan bahwa perbedaan tsb dapat terjadi karena adanya perbedaan definisi atau perbedaan penafsiran akan "dosa besar".
Bagi seorang salafi, tahlilan 7 hari, 40 hari, 100 hari dst mungkin dianggap sebagai dosa besar karena merupakan bid'ah yang tidak ada tuntunannya dari Nabi, dan semua bid'ah adalah sesat. Bagi seorang syiah, mengingkari hadits ghadir khum dianggap sebagai kesalahan besar, dan pelakunya dianggap murtad. Bagi seorang sunni, menghina sahabat Nabi adalah sebuah dosa besar, sehingga sebagian sunni menganggap syiah adalah golongan sesat. Bagi seorang Ibadi, Al Quran adalah makhluk, dan orang-orang yang mengingkari bahwa Al-Quran adalah makhluk dianggap bodoh, atau dianggap kufur. Dan seterusnya, setiap golongan punya asumsi dan anggapan masing-masing, dan semua golongan merasa golongannya sendirilah yang benar.
Lalu bagaimana menyikapi perbedaan tersebut? Ketika terdapat perbedaan pendapat mengenai suatu hal antara satu golongan dengan golongan lain, pendapat siapa yang harus diikuti? Apakah kita harus membabi-buta mengikuti golongan yang kita anggap benar, ambil contoh golongan sunni misalnya?
Menurut saya, dalam menentukan siapa yang benar dan siapa yang lebih benar antara golongan yang satu dengan golongan yang lain, salah satu patokan terbaik adalah akal pikiran kita: akal sehat, common sense atau reasoning. (Dan tidak perlu menjadi seorang jenius ber-IQ tinggi untuk bisa memiliki akal sehat atau common sense). Pendapat yang lebih masuk akal kemungkinan lebih benar atau lebih mendekati kebenaran. Tapi tentunya kita tidak bisa langsung menjustifikasi satu golongan tertentu sebagai golongan yang benar tanpa mendengarkan argumen dari golongan lain yang berseberangan. Sebelum menentukan pendapat, kita harus mendengar terlebih dahulu argumen dari semua golongan, kemudian barulah kita bisa mengikuti pendapat yang terbaik dari semua pendapat yang ada (QS 39:18). Jika kita jujur, obyektif, dan adil dalam menggunakan akal pikiran kita, insya Allah kita bisa memilih yang terbaik dari yang ada. Dan ada kalanya pilihan kita tidak konsisten dengan satu golongan tertentu. Misalnya saja, dalam hadits ghadir khum kita sependapat dengan syiah, dalam kasus pelaku dosa besar kita sependapat dengan murjiah, dalam kasus predestinasi kita sependapat dengan muktazilah, dalam tata cara sholat kita mengikuti syiah zaidi, dan lain sebagainya.
Comments
Post a Comment