Hudal lil muttaqiin
Sejak beberapa tahun yang lalu, saya tertarik dengan Noahidism atau Bnei Noah. Menurut tradisi Yahudi, umat manusia dibagi menjadi dua, yakni bangsa Israel serta bangsa selain Israel (gentiles). Hukum Tuhan pun juga dibagi dua, yakni Hukum khusus untuk bani Israel, yakni Hukum Taurat, serta hukum untuk bangsa selain Israel, yakni Tujuh Hukum Nuh atau the Seven Laws of Noach. Ketujuh hukum Nuh tersebut yaitu tidak menyembah berhala, tidak mencela Tuhan, tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berzinah, tidak memakan binatang yang masih hidup, serta membentuk sistem hukum (untuk mengawasi berlakunya hukum yang lain). Saya tertarik dengan Noahide ini karena tidak ada satupun hukum dalam Noahidisme ini yang bertentangan dengan Al Quran. Apalagi saya pernah mendengar keterangan dari seorang (atau lebih) rabbi melalui youtube yang menyatakan bahwa seorang muslim bisa saja menjadi seorang Noahide. Kemudian saya pun berasumsi bahwa Sabian yang disebut-sebut di dalam Al Quran sebenarnya adalah Noahide ini. Hal ini antara lain karena terdapat penafsiran yang menginterpretasikan Sabian di dalam Al Quran sebagai pengikut Nabi Nuh. Dan ada juga yang menafsirkannya sebagai umat yang membaca kitab Mazmur (Zabur). Sounds like the Noahides, right?
Namun, satu hal yang saya sayangkan dari Noahidism ini adalah bahwa Noahidism termasuk ajaran-ajarannya tidak memiliki dalil hukum dari kitab suci (Taurat, Nevi'im, ataupun Injil). Selama ini argumen tentang Noahides dari tradisi Yahudi biasanya berasal dari Maimonides yang hidup di zaman pertengahan (medieval). Atau paling banter berasal dari midrash rabbah (genesis rabbah) yang konon ditulis pada sekitar tahun 500 Masehi. Artinya ini relatif baru. Selain itu, tidak ada kitab suci khusus yang dapat dijadikan sebagai pedoman hidup bagi kaum the noahides ini.
Namun, pandangan saya seolah mendapatkan pencerahan setelah saya membaca terjemahan Al Quran berbahasa Inggris pada ayat Al Baqarah ayat 2 (QS 2:2) yang terkenal itu. Kenapa? Karena selama ini yang saya pahami hudal lil muttaqiin dalam ayat tersebut berarti petunjuk bagi orang bertakwa. Dan orang bertakwa di ayat ini konotasinya adalah seorang muslim atau seorang mukmin yang shaleh (pious). Sebenarnya tidak ada yang salah dengan terjemahan ini. Namun, ketika saya membaca beberapa terjemahan Al Quran bahasa Inggris, antara lain versi Maarif-ul-Quran, Mufi Taqi Usmani, dan Yusuf Ali, pandangan saya seolah tercerahkan. Ayat hudallilmuttaqiin tersebut diterjemahkan sebagai a guidance for the God-fearing atau guidance to those who fear God.
Kenapa saya tertarik dengan terjemahan ini? Karena, jauh sebelumnya di sekitar abad pertama masehi atau sebelumnya, kaum the Noahides ini kemungkinan adalah yang diidentifikasi sebagai God-fearing people. Dan beberapa kali ayat Mazmur dan juga beberapa ayat dari Perjanjian Baru menyebut-nyebut soal orang-orang yang takut Tuhan ini.
Apa artinya ini? Pertama, Noahidism sudah ada sejak beberapa tahun sebelum Masehi, namun ketika itu mereka disebut sebagai God-fearers atau God-fearing people. Kedua, bisa jadi yang dimaksud dengan al muttaqiin dalam beberapa ayat Al Quran adalah God-fearing people ini. Ketiga, jika demikian, maka boleh jadi kitab Injil dan juga Al Quran memang sengaja diturunkan untuk God-fearing people ini. Dalilnya antara lain QS 5:46, dimana kitab Injil diturunkan sebagai huda dan pengajaran lil muttaqiin. Keempat, jika sebelumnya bangsa gentiles yang takut Tuhan ini tidak punya kitab suci sendiri, maka kini kita punya kitab suci sendiri, yakni kitab Injil dan Al Quran.
Catatan:
Nabi Isa bin Maryam sedianya diturunkan khusus untuk bani Israel. Namun karena mayoritas bangsa Israel menolak Nabi Isa, maka Nabi Isa juga diutus untuk bangsa lain (ref Yesaya 49:6)? Demikian juga dengan kitab Injil sedianya diturunkan untuk bani Israil. Namun, berhubung bani Israel pada abad pertama masehi mengingkari Nabi Isa, maka kemudian kitab Injil dialihkan kepada bangsa lain yang akan menghasilkan buah kerajaan itu. Bangsa lain tersebut istilah lainnya adalah bangsa gentiles. Itulah kenapa kitab Injil (dan juga Al Quran) dituliskan dalam bahasa yang bukan bahasa Ibrani, padahal hampir semua kitab suci sebelumnya ditulis dalam bahasa Ibrani. Ini seolah-olah seperti yang dinubuatkan dalam Injil Thomas pasal 109 dan juga Injil Lukas 14:23-24. Kitab Injil ibarat jamuan makan yang ditolak oleh tamu undangan yang asli. Atau kitab Injil ibarat warisan berharga yang tidak dikenali oleh ahli warisnya sehingga ia disia-siakan dan diberikan kepada orang lain. Saya menduga bahwa kitab Injil-lah yang dimaksud sebagai kitab yang diwariskan dalam surah Fathir ayat 32. Kenapa? Karena pada saat ayat Fathir tsb diturunkan, Al Quran belum final, dan Al Quran belum berbentuk buku.
Wa Allahu a'lam.
Comments
Post a Comment