Mengapa Muslim Seharusnya Mempelajari Alkitab?

Tulisan ini berdasarkan pengalaman pribadi penulis, mengapa penulis membaca dan mempelajari Alkitab.

Alasan pertama, karena Al Quran sendiri yang memerintahkan agar seorang mukmin beriman kepada Al Quran maupun kitab sebelum Al Quran. Referensi ayatnya antara lain QS An Nisa 136, Al Baqarah 2:4, 2:136, dan lain sebagainya. Selain itu, ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah ayat Iqra, yang saya interpretasikan sebagai perintah untuk membaca kitab suci yang eksisting pada saat ayat tsb diturunkan. Apalagi kitab yang dimaksud kalau bukan Tanakh (the Jewish Bible) dan/atau Alkitab (the Bible). Lebih jauh lagi, saya berhipotesis bahwa kitab yang dimaksudkan untuk dibaca oleh Nabi Muhammad adalah Kitab Kejadian (Genesis), khususnya pasal-pasal awal dalam Kitab Kejadian. Hal ini karena ayat Iqra tsb berbunyi "Bacalah dengan Nama Tuhanmu yang Menciptakan, dst". Sedangkan kitab yang isinya diawali dengan Kisah Penciptaan hanyalah Kitab Kejadian. 

Alasan kedua mengapa kita perlu membaca Alkitab adalah karena dalam Alkitab terdapat banyak ayat maupun kisah menarik yang tidak akan kita temukan dalam Al Quran maupun Hadits Nabi. Misalnya keluh-kesah Ayub dalam Kitab Ayub, atau berbagai macam ayat dalam Kitab Mazmur, kisah Na'aman dalam Kitab Raja-raja, dan lain sebagainya.

Alasan ketiga, adalah karena setelah saya membaca Alkitab berikut interpretasinya/penjelasannya seperti misalnya Genesis Midrash Rabbah, Targum Onkelos, Mishnah Sanhedrin (Talmud), maka saya merasa bahwa saya lebih memahami beberapa ayat sulit dan/atau hadits Nabi yang tadinya sangat sulit untuk saya pahami. Misalnya seperti hadits takdir yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas'ud, tadinya begitu sulit untuk bisa saya terima oleh akal saya. Atau contoh lain adalah Al Alaq ayat 2, Al A'raaf ayat 172, Al Balad ayat 4, Al Baqarah ayat 31 s.d. 33, dan lain sebagainya. Ayat-ayat ini bisa saya pahami lebih baik setelah saya membandingkannya dengan ayat Alkitab.

Namun, perlu saya tegaskan bahwa kita memerlukan beberapa kitab tafsir dalam memahami Kitab Suci. Jika misalnya untuk bisa memahami ayat Al Quran, kita perlu membacanya dari berbagai sudut pandang, misalnya dari Tafsir ibnu Jarir Ath-Thabari, Al Qurthubi, Ibnu Katsir dan sebagainya, maka untuk memahami Alkitab akan lebih baik jika kita membaca komentar para Rabbi Yahudi terhadap ayat-ayat Alkitab. Misalnya dengan membaca kitab Midrash Rabbah, atau kitab Targum Onkelos, atau tulisan-tulisan para Rabbi Yahudi. Namun, harus selalu dipedomani, bahwa tidak semua tulisan dan pendapat tersebut harus kita telan mentah-mentah. Melainkan, kita membaca atau mendengarkan berbagai pandangan dari berbagai sumber, kemudian kita memilih yang terbaik diantaranya (ref QS 39:18). Insya Allah, jika demikian, kita akan menemukan petunjuk (huda) dan hikmat di dalam kitab-kitab Allah.

Comments

Popular posts from this blog

Bekal untuk Berdakwah

Apakah masih relevan?

Ayat Yang Salah Tempat?