I came to a conclusion

"Hai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya." (QS 4:136)

After years of thinking, setelah bertahun-tahun saya memikirkan ayat tersebut di atas, nampaknya sekarang saya sudah sampai kepada kesimpulan yang menurut saya cukup memuaskan. 

Saya yakin bahwa sebelum ayat An Nisa 136 tersebut di atas diturunkan, sebelumnya Allah sudah pernah memerintahkan orang-orang beriman untuk beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al Quran (ref: Al Baqarah 4, Al Baqarah 136, Al Imran 84). Nah, karena Allah sudah pernah memerintahkan orang beriman untuk beriman kepada kitab (atau kitab-kitab) sebelum Quran, lalu untuk apa lagi An Nisa 136 tsb di atas diturunkan? Menurut saya, karena terdapat perintah khusus, the next level, yang seharusnya bisa diimplementasikan oleh orang-orang beriman.

Dengan kata lain, kalau sebelum-sebelumnya kita hanya diperintahkan untuk sekedar percaya bahwa dahulu ada shuhuf yang diturunkan kepada Nabi Ibrahim, ada kitab yang diturunkan kepada Nabi Musa, ada kitab Zabur dan Injil, maka seolah-olah ayat An Nisa 136, bukan hanya sekedar memerintahkan kita untuk beriman kepada suatu kitab sebelum Quran, melainkan juga bahwa seyogyanya orang beriman juga menegakkan ajaran yang terkandung dalam kitab tertentu tersebut. Nah, kitab sebelum Quran ini saya yakin merupakan satu kitab tertentu (singular), bukan kitab-kitab (plural).

Setelah merenung selama bertahun-tahun akhirnya sekarang saya tiba pada kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan kitab dalam An Nisa 136 dimana kita diperintahkan untuk beriman kepadanya dalam artian iman yang "the next level", bukan hanya sekedar percaya bahwa kitab tersebut dahulu memang pernah ada, adalah kitab Injil. Dan inti dari kitab Injil ada pada the Beatitudes yang terdapat dalam Matius 5:3-9 dan juga sejumlah perumpamaan yang terdapat dalam Double Traditions (Matius dan Lukas) dan juga Injil Thomas.

Mengapa beatitudes dalam Matius 5:3-9? Karena terdapat perbedaan penggunaan penyebutan oleh Yesus kepada para pendengarnya, dimana pada Mat 5:3-9, Yesus menyebutnya dengan mereka (they/them), namun setelah ayat ke-10 sebutan berubah menjadi kamu (you). Saya mengartikan bahwa kamu (you) di sini adalah orang-orang Yahudi, sedangkan mereka (they/them) adalah bangsa gentiles, termasuk kita orang Indonesia.

Terdapat sejumlah alasan yang membuat saya percaya bahwa kitab sebelum Quran yang dimaksud dalam QS 4:136 adalah Kitab Injil, khususnya bagian the Beatitudes dan juga sejumlah perumpamaan yang terdapat dalam Injil Sinoptik.

Pertama, Surah Fathir ayat 32 (QS 35:32). Dalam ayat ini Allah menyatakan bahwa Allah mewariskan suatu kitab kepada sekelompok umat manusia. Menurut saya, tidak ada yg lebih tepat selain kitab tersebut adalah Injil. Kenapa bukan kitab lain, misalnya Taurat? Karena jelas-jelas Taurat diwariskan kepada bani Israel, dan tidak ada satu bangsa pun di dunia ini yang mengerjakan sejumlah perintah di dalam Taurat (seperti menguduskan hari Sabbath, abstein dari makan unta, kelinci, ikan yang tidak bersisik dsb) selain bangsa Israel. Beda halnya dengan Kitab Injil. Kitab Injil sejatinya diturunkan untuk bani Israel juga, namun karena kemudian sebagian besar orang Yahudi pada era Yesus menolak Yesus dan Injil, maka kemudian kitab Injil tersebut dialihkan atau diwariskan kepada bangsa lain (gentiles). Injil yang asli sejatinya ditulis dalam bahasa Ibrani, namun karena kemudian kitab ini dialihkan kepada bangsa lain, maka bahasanya pun berubah menjadi bahasa gentiles, khususnya bahasa Koine Greek. Sedangkan Injil asli yang berbahasa Ibrani sudah lama hilang, yang ada hanyalah Injil yang berbahasa Yunani. Hal ini persis seperti yang tersebut dalam Injil Thomas Logion #109. Bandingkan juga dengan Matius 21:43.

Kedua, Surah Al Qashash ayat 49-50 (QS 28:49-50), yakni dua kitab yang diingkari oleh orang-orang kafir. Menurut saya penafsiran yang paling pas adalah jika kedua kitab yang dimaksud adalah kitab Injil dan Quran, yakni dua kitab yang diingkari oleh orang-orang Yahudi.

Ketiga, pada surah Al Maaidah ayat 66 dan 68 Allah memerintahkan Ahli Kitab (orang-orang Yahudi) untuk menegakkan ajaran Taurat dan Injil. Di sini saya menangkap bahwa orang-orang Yahudi diperintahkan untuk menegakkan setidaknya ajaran dari dua kitab sekaligus, yakni Taurat dan Injil. Lalu bagaimana dengan umat Islam? Sepertinya umat Islam tidak mungkin menegakkan ajaran Taurat, karena memang itu bukan porsi kita. Namun kita masih bisa menegakkan ajaran Injil, khususnya bagian the Beatitudes dan perumpamaan (parables). Jadi, jika bangsa Yahudi diperintahkan untuk menegakkan ajaran Taurat dan Injil, maka umat Islam (mungkin) diperintahkan untuk menegakkan ajaran Injil dan Quran, dan kebetulan keduanya memang sangat sejalan.

Keempat, surah Al Baqarah ayat kedua, dzaalikal kitaabu laa rayba fiih... Saya menduga kuat bahwa kitab yang dimaksud dalam ayat ini (kitab itu) adalah kitab Injil. Kenapa? Karena redaksinya hampir sama seperti QS Al Maaidah 46 yang berbicara tentang kitab Injil, yakni sebagai hudal lil muttaqiin

Kelima, Al Baqarah ayat keempat menyatakan, walladziina yu'minuuna bimaa unzila ilayka wamaa unzila min qablika. Min qablika atau "sebelum kamu" di sini sepertinya paling tepat jika ditafsirkan sebagai kitab Injil karena Injil adalah kitab yang diturunkan tepat sebelum Quran, sedangkan Nabi Isa adalah nabi terakhir sebelum Nabi Muhammad. Tidak ada nabi lain di antara Muhammad dan Isa, sebagaimana tidak ada kitab lain di antara Quran dan Injil.

Keenam, berbagai hadits Nabi meriwayatkan bahwa Nabi Isa akan turun kembali ke muka bumi, dan akan menjadi imam sekaligus hakim bagi orang-orang beriman. Maka sangat wajar jika umat akhir zaman harus familiar dengan kitab yang dibawa oleh Nabi Isa, yakni Injil (kabar gembira/berita baik).

Ketujuh, terdapat suatu hadits yang menyatakan bahwa orang yang bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan bahwasanya Muhammad adalah rasulullah, dan Isa putra Maryam adalah hamba Allah dan rasul-Nya (tiga kalimat syahadat?) maka dia akan masuk surga dari pintu mana saja yang dikehendakinya. Yang ingin saya garis bawahi di sini adalah bahwa kesaksian kita kepada Nabi Isa sama pentingnya dengan kesaksian kita pada Nabi Muhammad.

wa Allahu a'lam

Comments

Popular posts from this blog

Bekal untuk Berdakwah

Apakah masih relevan?

Ayat Yang Salah Tempat?