Posts

First Thing First dalam Memahami Islam

Sekitar tahun 2002, Ulil Abshar Abdalla menerbitkan tulisannya yang berjudul Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam , yang dimuat pada situs islamlib (islam liberal). Dalam artikel tersebut, antara lain Ulil menyatakan bahwa agama Islam itu bukan sebuah patung indah yang sudah selesai pada abad ke-7 lalu, namun Islam adalah sebuah proses berkesinambungan dan panjang yang masih berlangsung. Sehingga dalam memahami dan menafsirkan (ulang) Islam, kita tidak harus mengekor kepada pendapat ulama-ulama terdahulu yang sudah meninggal berabad-abad yang lalu.  Nah, kalau kita memang mau menafsirkan ulang pemahaman Islam, atau menyegarkan kembali pemahaman Islam, menurut saya jalan terbaik adalah mencoba memahami ayat-ayat Al Quran sebagaimana ia pertama kali diturunkan, yaitu berdasarkan urutan diturunkannya Al Quran, atau secara chronological order . Ayat yang pertama kali turun itulah yang harus kita pahami terlebih dahulu, setelah itu baru kita mempelajari surat kedua, ketiga, dan seterusny...

Beda Penafsiran: Awal Mula Perpecahan dalam Islam

Saat ini terdapat sekian jenis golongan/mazhab dalam Islam. Lebih tepatnya terdapat 8 mazhab dalam Islam yang diakui dalam Risalah Amman ( Amman Message ). Kedelapan mazhab tsb adalah sunni hanafi, sunni hambali, sunni maliki, sunni syafi'i, syiah ja'fari (12 imam), syiah zaydi, ibadi (neo-khawarij), dan zahiri. Kalau dirunut dari sejarah, awal mula terjadinya perbedaan tersebut adalah karena perbedaan penafsiran. Salah satu contoh perbedaan itu adalah jawaban atas pertanyaan, apakah seorang muslim yang melakukan dosa besar itu tetap muslim atau kafir? Pada satu titik ekstrim, terdapat golongan khawarij yang menyatakan bahwa muslim yang melakukan dosa besar adalah kafir. Sedangkan pada satu titik ekstrim lainnya terdapat golongan murjiah yang menyatakan bahwa muslim yang melakukan dosa besar tetaplah muslim. Yang menjadi masalah sepertinya adalah definisi dari dosa besar, apakah yang dimaksud dengan dosa besar? Disinilah mungkin letak perbedaan antara seorang khawarij dengan ...

Berjuang untuk Beriman*

Bagi saya, rukun iman yang paling konkret namun justru paling sulit untuk dilaksanakan adalah Beriman kepada Kitab-kitab Allah. Saya mengatakan beriman kepada kitab-kitab Allah sebagai sesuatu yang konkret karena kitab-kitab tsb menurut saya memang nyata dan berwujud (termasuk kitab Taurat dan Injil yang dianggap oleh sebagian umat Islam sebagai kitab yang ghaib karena menurut mereka kitab Taurat dan Injil yang asli sudah hilang, sedangkan kitab Taurat dan Injil yang ada saat ini sudah tidak asli lagi karena sudah diubah2). Well , saya tidak sependapat dengan pendapat sebagian muslim tsb karena saya berkeyakinan bahwa kitab-kitab Taurat, Injil, dan kitab Nabi-Nabi yang beredar saat ini masih mengandung kebenaran dan dapat dijadikan sebagai pedoman.  Dalil saya adalah QS 2:2-4, dimana disebutkan "rukun iman", yaitu beriman kepada yang ghaib (Allah, Malaikat, Hari Akhir, dan Nabi/Rasul?) dan beriman kepada apa yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad dan apa yang diturunkan...

Antara Kitab (singular) dengan Kitab-Kitab (plural)

  Note to my self! Selama bertahun-tahun belakangan ini, hal yang sering mengisi pikiran saya adalah mencoba memahami perintah untuk beriman kepada Kitab Allah (atau kitab-kitab Allah). Sebenarnya ada berapa sih kitab yang harus diimani manusia, dan ada berapa kitab yang wajib untuk dilaksanakan, atau kalau dalam bahasa surah Al Maaidah 66 dan 68: menegakkan ajaran kitab-kitab. Hal ini terutama karena penyebutan kitab di dalam Al Quran terkadang dalam bentuk tunggal (singular) yaitu kitab , namun terkadang berbentuk jamak (plural) yakni kutub .  Salah satu contoh perbedaan tersebut nampak dalam ayat QS 2:177 dengan QS 4:136 dimana kedua ayat tsb sama-sama berisi tentang lima rukun iman. Di dalam QS 2:177 kata yang digunakan adalah alkitab atau berbentuk tunggal, sedangkan dalam QS 4:136 kata yang digunakan adalah kutubihi atau berbentuk jamak. Namun perlu saya tambahkan bahwa di dalam QS 136 sebelum menyebutkan tentang 5 rukun iman, ayat ini didahului oleh perintah untuk ber...

Siapa yang Asing, Siapa yang masuk ke Lubang Biawak?

Dalam tradisi hadits, terdapat beberapa riwayat yang menyatakan tentang 'nasib' umat Islam di masa depan. Ada hadits yang menyatakan bahwa umat Islam kelak akan seperti buih di lautan, yang berjumlah banyak namun tidak ada artinya. Ada juga hadits lainnya yang menyatakan bahwa umat Islam kelak (kini?) akan (sudah?) mengikuti jejak umat sebelumnya, yaitu Yahudi dan Nasrani, dimana ketika mereka (Yahudi dan Nasrani) masuk ke dalam lubang biawak, maka umat Islam pun juga masuk ke dalam lubang biawak. Sementara hadits lainnya menyatakan bahwa Islam (dulu) datang dalam keadaan asing, dan kelak (sekarang?) akan kembali menjadi asing (sudah?). Pertanyaannya sekarang, siapakah yang dimaksud sebagai umat Islam yang terasing, dan siapa pula umat Islam yang sudah jatuh ke dalam lubang biawak. Sekitar 30 tahun yang lalu, ketika Pak Harto masih menjadi presiden di Indonesia, ketika itu para muslimah yang mengenakan jilbab dianggap sebagai sesuatu yang aneh (asing). Begitu juga para ikhwan d...

Ternyata Nasrani berbeda dengan Kristen

Baru-baru ini saya mendapatkan "pencerahan" (setelah saya membaca beberapa tulisan orang Islam maupun tulisan orang Kristen sendiri) bahwa ternyata orang Kristen itu berbeda dengan orang Nasrani/ Nashara. Pantas saja selama ini saya kesulitan mencerna beberapa ayat Al Quran seperti QS 2:62, 5:69, 22:40, serta terutama QS 5:82-83. Setelah saya mendapatkan pencerahan tsb dan setelah saya tinjau kembali beberapa ayat Al Quran dan Al Kitab Perjanjian Baru, saya menyimpulkan bahwa terdapat sejumlah perbedaan antara Nasrani dan Kristen. Namun sebelum membahas perbedaan antara Kristen dangan Nasrani, terlebih dahulu saya bahas persamaannya. Persamaan antara Kristen dengan Nasrani antara lain sebagai berikut: 1. Sama-sama mengakui Yesus sebagai Mesias ( Christ ) 2. Sama-sama mengakui Yesus sebagai anak Allah ( the son of God) 3. Sama-sama disebut sebagai Ahli Kitab di dalam Al Quran Namun demikian terdapat sejumlah perbedaan mencolok antara Nasrani dengan Kristen. Berikut bebe...

Mengapa aku meninggalkan aliran mainstream

Sebenarnya keputusanku untuk meninggalkan aliran mainstream dan mencari-cari Islam "alternatif" bukanlah keputusan mendadak, melainkan sudah kupikirkan dan kurenungkan selama bertahun-tahun lamanya. Ada beberapa hal yang membuatku kurang merasa nyaman dengan golongan mainstream, yang membuat pikiranku merasa terganggu karena aku tidak bisa mencerna dan memahami beberapa ajaran mainstream. Beberapa hal yang mengganggu pikiranku tersebut antara lain: 1. Percaya kepada takdir yang memaksa, bahwa Allah sudah menakdirkan seseorang akan celaka atau bahagia bahkan sebelum yang bersangkutan lahir ke muka bumi ini. Konsep predestinasi ini menurut saya tidak selaras dengan keadilan Tuhan. Walaupun saya sudah pernah membaca penjelasan mengenai konsep takdir dari golongan mainstream, namun saya tidak melihat adanya perbedaan pandangan mengenai takdir versi golongan mainstream ini dengan versi aliran Jabariyyah. Kalau pandangan Jabariyyah mengenai konsep predestinasi sudah diketahui kh...